Home

Minggu, 29 Januari 2012

BEYAZ GUVERCIN (Sang Merpati Putih Penembus Langit) - PART 4 A

 4
Beautiful Night



            Hari begitu hangat kali ini, Pak Sobirin berjalan keluar dari ruangannya. Ia melihat-lihat ke sekeliling. Tatapannya terus memperhatikan siswa-siswa yang baru saja keluar kelas pada waktu istirahat pertama. Tatapan matanya tiba-tiba berhenti, mengarah ke salah satu kerumunan siswa yang sedang duduk di panggung teater. Lalu Pak Sobirin memanggilnya.
            “Arman.Teriak Pak Sobirin.
            Arman terhenyak dan melihat-lihat darimana asal suara itu.
            “Arman, sini.” Pak Sobirin kembali memanggilnya.
            Arman kemudian mengetahui asal suara, ternyata Pak Sobirin yang memanggilnya, ia berdiri dan langsung melangkah untuk segera menghampiri. Setelah sampai, ia langsung mencium punggung tangan Pak Sobirin itu sambil mengucapkan salam.
            “Nak Arman, Bapak ada perlu sebentar, kita masuk saja keruangan Bapak, ada sesuatu hal yang ingin Bapak bicarakan. Ajak Pak Sobirin sambil mengisaratkan pada agar Arman masuk ke ruangannya.
            Arman pun lalu melangkah santun mengikuti Pak Sobirin dari belakang masuk ke ruangan kepala sekolah itu. Pak Sobirin duduk dikursi belakang meja, dan Arman duduk dikursi yang disediakan, berhadapan dengan Pak Sobirin.
            “Ada keperluan apa ya Pak.” Arman bertanya perihal kepentingan akan dirinya.
            “Baik, begini Nak Arman, Pihak sekolah akan mengadakan acara Malam Bina Ruhani Islam. Acara ini kan sudah rutin dilakukan oleh pihak sekolah setiap tahunnya, untuk menyambut siswa baru di sekolah ini. Acaranya berupa taushiyah, pendalamam mengenai agama islam. Kamu sendiri juga pasti sudah pernah mengikutinya dulu. Nah, oleh karena itu, tolong kamu koordinasikan dengan teman-temanmu untuk kembali menjadi panitia acara tersebut. Acaranya akan diselenggarakan hari kamis malam, minggu depan, di mesjid sekolah. Untuk pengisi acaranya nanti pihak sekolah sudah menyiapkan, hanya saja untuk konsep, anggaran dana dan tema-nya tolong kamu nanti yang mengurusnya dan bentuk kepanitiaannya. Bapak pilih kamu sebagai ketuanya. Bapak percayakan kepadamu.
            Arman menyetujui dan siap menjalankan perintah dari Kepala Sekolah SMUN 1 Sriwidari itu.
            “Kalau begitu, nanti saya akan segera bentuk kepanitiaanya, mungkin saya akan memanggil kembali beberapa orang dari panitia orientasi beberapa bulan lalu dan nanti akan segera saya serahkan laporannya.” Ujar Arman.
            “Iya, pokoknya Bapak serahkan sama kamu, persiapkan semuanya dengan baik.
            “Baik Pak, saya akan coba membuat acara Malam Bina Ruhani Islam kali ini lebih meriah dan bisa menarik banyak pengunjung. O ya, Apakah ada yang lainnya lagi mungkin Pak?”
            “Tidak, mungkin hanya itu saja, maaf Bapak mengganggu waktu istirahat kamu Nak Arman.
            “Sama sekali tidak apa-apa, kalau tidak ada lagi, saya mohon diri dulu Pak.
            “Silahkan, terimakasih Nak Arman.
            “Sama-sama.” Jawab Arman beranjak dari tempat duduknya dengan berucap salam.
            Kemudian Arman pun mohon diri, pergi meninggalkan ruangan Pak Sobirin untuk kembali menikmati waktu istirahat pertamanya, sambil mencari beberapa temannya untuk diajak kembali menjadi panitia, sesuai dengan amanah yang diembannya. Langkahnya terus berjalan dilorong-lorong depan kelas. Mengarah kesebuah kantin.
            Dikantin sekolah, Erlan begitu lahap memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. Menyantap sepiring nasi rames. Sedang, disebelahnya Yudi sedang bingung memilih-milih menu makanan. Disekelilingnya terlihat banyak siswa-siswa lain yang juga sedang makan, memilih makanan-makanan, dan menikmati waktu istirahat, di kantin milik Pak Bento.
            “Arman kemana ya?” Tanya Erlan kepada Yudi.
            “Mungkin dia belum keluar kelas untuk istirahat, coba kita hubungi saja.Ujar Yudi
            Yudi lalu mengambil handphone di saku kanan celananya, untuk menghubungi Arman.
            Tak lama, handphone butut milik Arman pun berbunyi.
            “Halo.” Arman menjawab panggilan telponnya.
            “Halo, Arman kamu dimana?” Tanya Yudi dari sebelah sana.
            “Saya sedang mencarimu, kamu ada dimana, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan?” Arman balik bertanya.
            “Saya sedang ada di kantin Pak Bento, bareng Erlan.
            “Wah kebetulan sekali, saya juga mau ke kantin, kamu tunggu disitu, sebentar lagi saya sampai.
            “Baik-baik, kami tunggu.
            Percakapan mereka pun berakhir. Arman mempercepat langkah kakinya menuju kantin Pak Bento. Sekitar lima menit ia tiba di kantin itu.
            “Halo sahabat, assalamualaikum.” Ucap Arman sambil menjabat tangan kedua sahabatnya itu, Erlan dan Yudi.
            “Waalaikumsalam.” Jawab Erlan dan Yudi hampir bersamaan.
            Arman kemudian duduk di kursi yang masih kosong. Disebelah Erlan. Lalu memilih-milih minuman yang akan dipesan.
            “Kebetulan kalian ada disini. Saya ada perlu sesuatu sama kalian. Ada yang harus saya bicarakan.  Begini, tadi Pak Sobirin meminta saya untuk menyiapkan acara Malam Bina Ruhani Islam. Itu loh, acara tahunan untuk menyambut siswa baru. Terus saya juga diminta untuk menyiapkan kepanitiaannya, dan acaranya akan diadakan hari Kamis minggu depan, nah.. saya minta kalian ikut jadi panitia lagi, kalian mau tidak?”
            “O pasti, kalau itu saya always siap!” Jawab Erlan sambil mengunyah makanannya.
            “Kalo kamu Yud?” Arman juga bertanya pada Yudi yang masih menunggu pesanan makanannya.
            “Kalau aku sih, pasti siap juga kawan.”
            “Baiklah, kalau kalian siap, setelah kalian selesai makan, saya minta tolong untuk mencarikan beberapa orang lagi untuk menjadi panitia, ajak juga Lutfi dan Firman. Kita butuh lima belas orang lagi saja. Masing-masing kita cari lima orang, lalu kumpulkan mereka nanti, setelah selesai pelajaran hari ini di kelas IPA untuk mengikuti rapat. Bagaimana adil kan. He.. he.. he..” Ucap Arman memimpin.
            “Baik, oke lah kalau begitu.” Ujar Erlan sambil tertawa dan tersedak karena makanan dimulutnya.
            “Ini kawan air minumnya, ayo minum dulu, maka-nya hati-hati, makan... ya makan.., ngomong... ya ngomong... jangan makan sambil ngomong.” Yudi membantu mengambilkan air minum sambil tertawa-tawa bersama Arman.
            Setelah Erlan merasa tenang karena tersedak, Arman tiba-tiba terpikirkan akan sesuatu. Disebelahnya, Pak Bento datang mengantarkan pesanan Yudi dan minuman pesanan Arman.
            “Sebentar, di Malam Bina Ruhani Islam itu kan ada acara kuro[1], kira-kira siapa orang yang pas jadi pengisi acaranya?, kalau penceramah untuk pengisi taushiyah-nya sudah disiapkan oleh pihak sekolah, jadi kita tidak perlu memikirkannya.” Arman bingung dan meminta masukan.
            Yudi langsung memberikan ide, “Bagaimana kalau kamu saja yang mengisinya. Kamu juga kan pasih membaca Al-Qur’an, masih aktif di pesantren lagi.” Yudi berkata kepada Arman.
            “Waduh, jangan saya, sungguh saya belum siap kalau untuk mengisi acara kuro, saya juga masih belajar.
            “Kamu jangan terlalu merendah begitu, kamu kan didikannya Ustad Jaelani, guru agama di sekolah ini, pasti bisa.
            “Sungguh Yud saya belum siap, lagian nanti siapa yang mengontrol acaranya, konsentrasinya nanti takut terpecah. Begini saja, bagaimana kalau Ghufran, dia kan koordinator divisi keagamaan di OSIS, saya pernah lihat dia membaca Al-Qur’an, bagus lagi membacakannya.
            “Ghufran..! O iya, saya baru ingat, saya setuju.” Ujar Yudi sambil mengunyah makanan dan mengangkat jari telunjuknya.
            “Saya juga setuju.” Erlan mengikuti sambil menatap Arman dan Yudi, lalu mengangkat-ngangkat kedua alisnya.
            Arman menatap sesaat dua sahabatnya.
            “Baiklah, kalau kalian setuju nanti waktu istirahat kedua, saya akan coba membicarakan hal ini dengannya, dia ada di kelas IPS 2 kan?”
            “Iya betul, sekalian saja ajak dia untuk rapat, nanti sepulang sekolah.
            “Iya Baik.” jawab Arman sambil menggenggam botol minuman lalu menyeruputnya.
            “Teeeeett.... Teeeett...” tak lama suara bel tanda masuk kelas terdengar. Arman, Erlan dan Yudi pun segera bergegas untuk masuk ke kelasnya, setelah membayar pesanan makanan.

***** 

To Be Continue
Part 4 B

[1] Kuro artinya pembacaan Al-Qur’an

Sabtu, 07 Januari 2012

Heart, Wings and Light

Tumpukan kertas, berkas-berkas kerja berdebu yang masih belum selesai ku kerjakan masih menghiasi meja kerja. Suara laju printer terdengar menghiasi sore yang mulai beranjak merayap menuju magrib. Setelah sesaat beristirahat dari penatnya jam kerja, ditambah dengan pekerjaan yang belum terselesaikan, aku berpikir alangkah baiknya pekerjaan yang masih tersisa itu segera diselesaikan. Aku memulai kembali bekerja dan terkadang berakhir hingga larut malam. Memang lebih dari setahun belakangan ini, hari-hariku mulai matrikulasi dan terjebak dalam rutinitas yang itu-itu saja: bekerja, nonton acara televisi, dan sekejap menyempatkan diri didepan laptop hanya untuk menulis. Rutinitas sepertinya bagaikan pembunuh berdarah dingin.
“Nizam aku pulang duluan ya.” Kata itu terlontar dari salah seorang rekan kerjaku. Rupanya dia sudah beranjak pulang untuk segera berjumpa dengan keluarganya. Sedangkan aku harus masih mengerjakan tugas yang enggan ku biarkan hingga esok hari. Karena esok pasti pekerjaanku akan bertambah lagi. Lagi pula keluargaku jauh, sepulang dari kantor aku hanya bisa pulang ke los kontrakanku.
“ Oke, hati-hati dijalan.” Jawabku standar.
Satu per satu dari mereka pergi pulang menerobos padatnya jalanan di sore hari. Tinggal menyisakan aku dan seorang satpam jaga yang masih ada diruang ini. Jari jemariku masih sibuk memainkan hurup-hurup yang ada pada keyboard, mataku tetap fokus pada layar monitor komputer. Raga ku rasakan sudah mulai letih. Suara printer yang dari tadi tak henti-hentinya terus bergerak mencetak laporan hari ini dan suara televisi yang sedang memberitakan kekisruhan Negeri tercintaku ini, yang hanya mampu memecah redup keheningan. Hatiku selalu gamang bila dihadapkan pada situasi seperti ini. Hatiku kadang meracau  menghadapi gelombang kekesalan yang bagai memusat ke ubun-ubun kepala dan melemahkan semangatku. Jiwaku terusik. Aku tak bisa banyak bicara dan hanya bisa bergerak bagaikan mesin. Sungguh rutinitas harian yang ku hadapi membuatku bosan. Ingin rasanya menikmati kebebasan dalam hidupku suatu hari nanti. Pemikiran ku yang terkadang idealis selalu berontak ketika dipaksa harus terkekang.
Ketika aku masih bergulat dengan pekerjaan dan pikiran yang tak menentu tiba-tiba handphone ku berdering, ringtone Owl City berjudul Vanilla Twilight . Setelah ku lihat ternyata sebuah pesan masuk.

“Jangan Lupa Solat, dan makan juga ya.. ^_^.  – Nathia –“
Suatu kebiasaan baru yang membuat hari-hariku jadi berbeda dari biasanya. Sudah lama aku tak merasakan hal seperti ini. Merasa diperhatikan, atau bahkan mungkin dicintai. Tapi itulah sesuatu yang membuatku merasa tenang.  SMS yang sederhana tapi sangat bermakna bagiku ditengah penatnya beban kerja yang menjemukan. Aku memutuskan segera membalas pesan dari Nathia.

“Iya terimakasih, kamu juga ya sayang.” Klik, pesan terkirim.
Suara adzan magrib memecah langit. Aku beranjak dan mengambil air wudhu. Mendirikan panggilan melaksanakan shalat magrib. Dalam dzikir ku agungkan nama Illahi Rabbi. Doa ku tuturkan pengakuan sebagai manusia yang berdosa, iman yang tak sempurna.

Tepat pukul tujuh malam, aku sudah menyelesaikan sisa pekerjaanku. Dan segera menuju halte menunggu metro untuk sampai ke los kontrakanku. Malam itu bulan tertutup awan. Sambil duduk aku merenung. Aku merasakan rindu pada Nathia, aku rindu keluargaku, sedangkan aku tak bisa setiap hari bertemu dengan mereka semua. Dan hari esok akan ku lalui rutinitas yang sama lagi. Aku tak tahan melewati badai kejenuhan yang menghimpit. Ku tak sabar menunggu waktu bertemu keluarga dan bisa bersama setiap saat mendekap Nathia. Perlahan air mataku meleleh jatuh dikedua pipi. Aku tak kuasa menahan. Sungguh rasa rindu yang tak bisa terbendung. Ingin rasanya hati ini mengembangkan sayap bercahaya dan terbang kearah mereka orang-orang yang selalu ku sayang. Hati bersayap dan bercahaya miliku selalu ada untuk kalian. 
--------------------------------------------------------------------------------------------

Heart, Wings and Light:
“Saat Anda merasa bosan dalam perjalanan mencapai impian, berhentilah sejenak. Luangkan waktu bertemu dengan orang-orang yang Anda sayangi. Berhenti bukan berarti berleha-leha. Tapi manjakan diri dengan mengumpulkan tenaga dan mencerahkan pikiran untuk kembali meraih impian Anda.”

Rahman Sophal Alparid.


Kamis, 22 Desember 2011

Brainstorming: Nikmatnya Rasa Sakit

Rasa sakit tidak selamanya tidak berharga, sehingga harus selalu dibenci. Sebab, mungkin saja rasa sakit itu justru akan mendatangkan kebaikan bagi seseorang.
Bisanya, ketulusan sebuah doa muncul tatkala rasa sakit mendera. Demikian pula dengan ketulusan tasbih yang senantiasa terucap saat rasa sakit terasa. Adalah jerih payah dan beban berat saat menuntut ilmulah yang telah mengantarkan seorang pelajar menjadi ilmuwan terkemuka. Ia telah bersusah payah di awal perjalanannya, sehingga ia bisa menikmati kesenangan di akhirnya. Usaha keras seorang penyair memilih kata-kata untuk bait-bait syairnya telah menghasilkan sebuah karya sastra yang sangat menawan. Ia, dengan hati, urat syaraf, dan darahnya, telah larut bersama kerja kerasnya itu, sehingga syair-syairnya mampu menggerakkan perasaan dan menggoncangkan hati. Upaya keras seorang penulis telah menghasilkan tulisan yang sangat menarik dan penuh dengan 'ibrah'.
Seorang penyair yang tidak pernah merasakan pahitnya berusaha dan tidak pernah mereguk pahitnya hidup, maka untaian qasidah-qasidahnya hanya akan terasa seperti kumpulan kata-kata murahan yang tak bernilai. Sebab, qasidah-qasidanya hanya keluar dari lisannya, bukan dari perasaannya. Apa yang diutarakan hanya sebatas penalarannya saja dan bukan dari hati nurani.
Didunia ini banyak orang yang berhasil mempersembahkan karya terbaiknya dikarenakan mau bersusah payah. Syahdan an Nabighah sempat diancam akan dibunuh oleh Nu'man ibn al-Mundzir sebelum akhirnya mempersembahkan syair berikut ini:
Engkau matahari, dan raja-raja yang lain bintang-bintang
Tatkala engkau terbit ke permukaan
Bintang-bintang itu pun lenyap tenggelam

Sedang, Al Mutanabbi misalnya, ia sempat mengidap rasa demam yang amat sangat sebelum berhasil menciptakan syair:
Wanita yang mengunjungiku seperti memendam malu
Ia hanya mengunjungiku di gelapnya malam

Di dunia ini, banyak orang yang kaya karena terlebih dahulu bersusah payah dalam masa mudanya. Oleh karena itu, tak usah bersedih bila Anda harus bersusah payah dan tak usah takut dengan beban hidup, sebab mungkin saja beban hidup itu akan menjadi kekuatan bagimu serta akan menjadi sebuah kenikmatan pada suatu hari nanti. Jika Anda hidup dengan hati yang berkobar, cinta yang membara dan jiwa yang bergelora, akan lebih baik dan lebih terhormat daripada harus hidup dengan perasaan yang dingin, semangat yang layu dan jiwa yang lemah. (Sumber: La Tahzan)

Rabu, 07 Desember 2011

HARUS TERUS BERTAHAN

Udara dingin menusuk hingga jantung, baju berlapis yang ku kenakan tak mampu menghadirkan rasa hangat.
Tubuh ini menggigil di tepian semenanjung, ber-mil-mil dari tempatku terasingkan.
Aku seakan melayang lalu tenggelam diantara delta-delta kutub selatan.
Seperti tak ada tempat bagiku, mendekap kehangatan depan perapian sang cinta.
Udara dingin terus menghantam membekukan kaki-kaki, hingga sulit tuk berjalan, walau sekedar berjalan perlahan.
Sedikit merangkak, menggapai daun-daun kering pemantik aliran darah. 
Dalam jiwa yang terlantar, sedikit demi sedikit reaksi alamiah mengalir mencairkan kebekuan hati. 
Menjalar bersama aliran darah. Menghidupkan jiwa hampir mati. 
Dengan helaan napas panjang ke peluk erat kedua kakiku. 
Bersama kepingan kenangan pahit yang tak pernah bisa ku kubur didasar lautan terdalam.
Entah sampai kapan semua ini akan berakhir?
Akankah ada penyelamat yang tanpa sengaja menemukan ku.
Atau apakah aku harus tetap bertahan dan tetap merasakan pahitnya terasingkan dari hangat perapian sang cinta.
Pedang keyakinanku hampir retak
Aku harus terus bertahan

Jumat, 18 November 2011

BEYAZ GUVERCIN (Sang Merpati Putih Penembus Langit) - PART 3 B

“Kok kamu bisa-bisanya sih nak keserempet motor, maka-nya lain kali kamu lebih hati-hati. Mana lukanya, sini ibu obati.Kata Bu Juzailah sambil mengompres luka lebam hitam kebiruan yang ada di lengan kanan Rimbani.
            “Iya Ummi, Rimbani sudah berjalan hati-hati, mungkin pengendara motornya saja tadi yang tidak melihat Rimbani sedang ada dipinggir jalan. Katanya kan dia juga sedang mengetik sms sambil mengendarai motornya Mi.
            “Aya-aya wae[1], kok sempat-sempatnya mengendarai motor sambil ngetik sms.” Bu Juzailah menggerutu.
            “Tidak apa-apa Bu, mungkin dia sedang buru-buru, atau ada kepentingan. Lagian Rimbani kan tidak apa-apa, hanya sedikit lebam saja.
            “Kenapa Mi.” Tiba-tiba Pak Harun datang dari pintu belakang.
            “Ini loh, Rimbani, keserempet motor.
            “Lha Terus, kamu tidak apa-apa nak, perlu dibawa kerumah sakit tidak.
            “Tidak usah abah, hanya lebam kecil saja, Insya Allah, nanti segera sembuh.” Kata Rimbani pelan.
            “Yakin, tidak apa-apa, abah hanya takut terjadi sesuatu sama kamu nak, nanti kalau lukanya itu semakin parah bagaimana.
            “Iya, Bah. Rimbani yakin, kalau tangannya digerakkan tidak terasa sakit kok, tapi kalo disentuh sama Abah atau sama Ummi, nah baru kerasa sakit.”
            Pak Harun dan Bu Juzailah sedikit tertawa, “Bisa aja kamu nak, ya sudah kalau nanti terlihat belum sembuh juga, bilang sama Abah atau Ummi mu ya.” Ucap Pak Harun.
            “Iya Abah.
            Setelah selesai diobati, Rimbani langsung menuju ruang tengah, Rimbani melihat buku-buku koleksinya. Ia mengambil sebuah buku kategori an-nafsu al-mutma’innah[2] karya DR.’Aidh al-Qarni yang tersimpan di rak buku. Lalu Ia duduk di sofa tengah rumah sambil membaca salah satu bab yang menerangkan penjelasan tentang berbaik sangka kepada Allah Azza Wa Jalla. Suasananya begitu nyaman. Meski lebam ditangannya masih terasa sakit tapi sama sekali tidak mengganggunya.
Lembar demi lembar ia baca, meresapi dan mempelajari isi dalam buku tersebut Rimbani mencoba memahami apa yang ditulis Aidh al-Qarni yang menjelaskan tentang berbaik sangka kepada Allah merupakan sebuah nikmat yang menentramkan. Ketika Allah mungkin saja mencoba seorang hamba-Nya dengan ujian berat yang sebenarnya justru melepaskan dirinya dari kehancuran. Sehingga cobaan itu menjadi nikmat terbesar baginya. Orang yang berbaik sangka dengan bersabar menghadapi ujian, menerima semua ketentuan Allah dan bersabar atas semua kesulitan, maka Allah akan menampakkan kebaikannya. Tujuannya, agar selanjutnya bisa memahami kemaslahatan yang tersembunyi dibalik itu.
Rimbani memahami apa yang dikatakan William James dalam buku itu, Rabb memberikan ampunan atas kesalahan kita, namun organ syaraf kita tidak pernah melakukan itu untuk selamanya. Jadi, janganlah mengeluh ketika dicengkram taring-taring ujian, karena jalan kearah kebaikan sangat sulit.”
            Rimbani membaca banyak setiap bagian-bagian dari bab tersebut, ia begitu mendalaminya, membaca lebih dalam lagi dan ia menemukan dihalaman lain terselip penjelasan bahwa menurut Ibnu al-Wajir dalam bukunya yang terkenal, Al-Awashim wa al-Qawashim, mengatakan bahwa harapan terhadap rahmat Allah akan selalu membukakan pintu harapan bagi diri seorang hamba, akan menguatkannya untuk melakukan ketaatan, dan membuatnya semakin antusias dalam melakukan amalan-amalan sunnah dan bersegera untuk melakukan kebaikan. Sebab, tidak semua jiwa akan menjadi baik kecuali dengan mengingat rahmat, ampunan, taubat, dan kesabaran Allah. Karena sikap Allah yang demikian baik, maka mereka pun mendekatkan diri kepada-Nya, dan berusaha keras melakukan kebaikan.
            Ketika Rimbani sedang santai membaca dan menghayati isi salah satu bab dari buku tersebut, tiba-tiba ibunya, Bu Juzailah, memanggil.
            “Nak, kamu dimana?”
            “Ini disini Bu, Rimbani ada di ruang tengah.”
            Bu Juzailah melangkah ke ruang tengah rumah menghampiri Rimbani.
            “Nak, laki-laki yang tadi nolongin kamu itu siapa? apa kamu kenal dekat dengannya? perasaan ibu kok seperti sudah lama begitu ketemu sama dia, tadi siapa namanya ibu lupa.
            “Mungkin itu hanya perasaan Ummi saja, dia Kak Arman, kakak kelas Rimbani, dia ketua orientasi siswa baru waktu kemarin. Rimbani baru sekali bertemu, itupun juga belum terlalu mengenal baik. Rimbani baru tadi berkenalan dengannya. Kebetulan bertemu di warung. Rimbani belum tahu banyak tentangnya. Setahu Rimbani, dia salah satu siswa terbaik di SMUN 1 Sriwidari, hanya itu Ummi.” Jawab Rimbani dengan tenang.
            “Oo.. Apa kamu suka sama Nak Arman itu?Tanya Bu Juzailah sambil menggoda Rimbani.
            Rimbani tersenyum malu dengan pertanyaan ibunya itu. ia berusaha untuk tenang, dan mencoba berkata jujur.
            “Jujur Ummi, Rimbani terkesan padanya. Sejak pertama kali Rimbani melihatnya, sosoknya begitu istimewa, bertanggung jawab, bisa menjadi seorang pemimpin yang baik, penyabar, dan sepertinya seorang pekerja keras.
            “Kamu boleh saja jatuh cinta, tapi ingat jangan sampai mengganggu urusan sekolahmu. Baru juga kan kamu masuk SMU.
            “Iya Ummi, terkesan bukan berarti Rimbani harus memilikinya kan, Rimbani juga tak pernah berkata akan berpacaran. Jadi Rimbani tidak salah kan Mi.” Jawab Rimbani diplomatis. Namum dihati kecilnya terpatri sebuah nama yaitu Arman Reihan.
            “Iya, mudah-mudahan kamu nanti dapat jodoh yang baik, shalih, punya tanggung jawab dan bisa menjadi imam yang baik untukmu ya Nak. Syukur-syukur kalo Nak Arman itu. Ummi lihat sepertinya dia orangnya juga baik. Insya Allah. Ummi jadi teringat waktu sama abah mu dulu. Tahu gak, Ummi pertama terkesan sama abah mu itu, ketika dia nolongin Ummi jatuh terpeleset di sawah. Euuh.. waktu itu Abah mu membuat hati Ummi berdebar-debar. He.. he.. he..”
            Di belakang tanpa mereka ketahui, Pak Harun ternyata mendengar itu semua. Dengan berjalan mendekat.
            “Ummi, jangan bikin malu Abah ah, Ummi ini aya-aya wae.”
            Sontak semuanya pun dibuatnya tertawa bersama-sama.


*****

Pukul setengah lima sore Pak Badri dan Arman mohon diri. Kiai Abdullah mengantarkan mereka sampai beranda.
            “Pak Kiai, saya mohon diri dulu.” Ucap Pak Badri kepada Kiai Abdullah.
            “Baik. Terimakasih sudah hadir. Kapan-kapan kalau ada waktu, jangan sungkan-sungkan untuk mampir kemari. Nak Arman juga, jangan sungkan datang lagi kesini ya.”
            “Baik Pak Kiai.” Jawab Arman dan Kakeknya hampir bersamaan.
            “Mari Pak Kiai saya permisi dulu.”
            “Silahkan.. Silahkan.., hati-hati.”
            “Baik, terimakasih Pak Kiai, Assalamualaikum.”
            “Waalaikumsalam.”
            Arman menyalakan motornya. Kiai Abdullah masih berdiri di beranda. Motor yang dikendarai Arman beserta kakeknya yang ada di boncengan, melaju perlahan menuju gerbang keluar pesantren. Tak lama kemudian motor itu hilang keluar gerbang berbelok menuju utara untuk kembali pulang ke Sriwidari.
            Diperjalanan Arman masih mengingat kejadian yang dialaminya hari itu. Bertemu dengan wanita terindah yang pernah ia temui, Rimbani. Keteduhan serta keanggunannya yang membuat Arman begitu terpana. Hari terindah, hari bersejarah, hari yang tak akan pernah dilupakannya. Mungkin seperti itu gambaran yang ada di kepalanya. Motor terus melaju, di atas aspal berlubang, jalanan yang belum pernah diperbaiki lagi.
            “Kek, kapan Kakek mau ke Bojong lagi.” Tiba-tiba Arman bertanya sambil mengendarai motornya.
            “Kakek belum tahu. Memangnya kenapa?”. Kakeknya balik bertanya.
            “Kapan-kapan kalau Kakek mau ke Pesantren itu lagi, ajak Arman ya Kek.”
            “Iya, nanti kalau kesitu lagi Kakek beritahu. Lagian juga kalau kamu mau ke pesantren itu lagi sendiri juga tidak apa-apa, kan Kiai Abdullah juga sudah kenal sama kamu. Biasanya, suka ada pengajian setiap malam jumat.”
            “O begitu ya Kek. Kapan-kapan, Insya Allah Arman datang ke pengajiannya.”
            Hari semakin petang, langit sudah nampak merah kekuningan. Motornya meluncur menyusuri jalan yang terlihat seperti membelah pesawahan. Burung-burung pinis berhamburan bersiap menyambut dewi malam.

*****

To Be Continue
Part 4 A



[1] Ada-ada saja
[2] Pencerahan hati

Rabu, 21 September 2011

BEYAZ GUVERCIN (Sang Merpati Putih Penembus Langit) - PART 3 A

3
Pertemuan Tak Terduga






            Arman memacu sepeda motornya, laju kecepatannya sekitar enam puluh kilometer per jam, dengan rasa kantuk yang masih terasa menyelimuti. Arman terus berhati-hati mengendarai sepeda motornya. Mengantarkan Pak Badri, Kakeknya, ke pesantren Darrul Ihsan di desa Bojong.
            Panas sinar matahari terasa sangat menyengat dikulit. Rasa dahaga mulai terasa mengeringkan rongga-rongga tenggorokan. Ia sedikit menambah laju kecepatan sepeda motornya agar segera sampai ke pesantren. Jam dua siang, Arman dan Kakeknya tiba di Pesantren Darrul Ihsan. Masyarakat yang hendak menghadiri acara khitanan telah banyak yang berdatangan.
            Kiai Abdullah terlihat berjalan dari mesjid menuju rumah. Kiai itu sedang berbincang dengan salah seorang anggota keluarganya. Lalu pandangannya mengitar ke arah kerumunan orang-orang yang hadir. Mata Kiai itu kemudian tertuju pada Arman dan Kakeknya. Kiai Abdullah tersenyum. Lalu berjalan mengarah pada mereka.
            “Akhirnya kamu datang memenuhi undanganku.” Kiai Abdullah berucap pada Pak Badri.
         “Undangan dari sahabat lama, mana mungkin aku mengabaikannya.” Jawab Pak Badri sambil tersenyum membalas.
            “Kamu datang dengan siapa?”
            “Ini saya datang dengan cucuku.
            “O Arman? yang dulu waktu kecil sering ikut kita berburu belalang di sawah untuk pakan burung. Masya Allah kamu sudah bujang sekarang. Lama sekali abah tidak bertemu denganmu.” Kiai Abdullah menatap Arman sambil mengelus-ngelus pundaknya.
         Kiai Abdullah dan Pak Badri adalah sahabat lama. Mereka berteman ketika menjadi santri di pesantren itu. Kiai Abdullah adalah anak dari pendiri pesantren dan menjadi penerus pondok pesantren Darrul Ihsan setelah ayahnya meninggal.
            “Mari silahkan, acara khitanannya sebentar lagi dimulai.
            “Iya baik.
            Kiai Abdullah dan Pak Badri berjalan bersamaan, Arman mengikutinya dari belakang. Sebelum sampai ke beranda rumah Kiai Abdullah, Arman berjalan kesebelah Kakeknya dan berbisik bahwa ia akan pergi mencari sebuah warung untuk membeli minuman. Karena, saat itu ia tak kuasa menahan dahaga.
       “Kek, Arman mau mencari minuman dulu ya, nanti kalo sudah selesai, Arman pulang lagi kesini.Mulutnya berbisik ketelinga Kakeknya.
            “Ya sudah, jangan lama-lama, nanti cepat balik kesini lagi.Ujar Kakeknya dengan nada pelan.
         Arman segera pergi meninggalkan Kakek dan Kiai Abdullah untuk mencari warung yang menjual minuman disekitar pondok pesantren. Arman berjalan menuju gerbang keluar pesantren. Lalu tak lama ia melihat warung kelontongan kecil tepat berada diseberang jalan. Ia pun berjalan menyeberangi jalan untuk menuju warung tersebut. Setibanya ia membeli sebotol soft drink dingin, dan segera meminumnya untuk menghilangkan rasa dahaga yang mendera. Begitu segar membasahi tenggorokannya. Ia pun sejenak duduk disebuah kursi yang ada di warung kelontongan itu hanya untuk sekedar ikut beristirahat dan berteduh.
            Tatapan Arman mengarah ke jalan sambil sesekali memperhatikan orang-orang yang bergerak masuk ke pondok pesantren. Matanya sedikit kemerahan karena rasa kantuk yang masih mendera. Angin yang berhembus lembut menghantam tubuhnya, semakin lama semakin membuat Arman tak bisa melawan rasa kantuknya. Tak kuasa mengungkit kelopak mata yang terasa berat. Konsentrasi otaknya minus tujuh puluh persen. Pandangannya kabur dan kesadarannya melayan-layang. Sampai-sampai Ia tak menyadari ketika ada seorang pembeli lain berada disebelahnya.
            “Kak Arman!!!”  Tiba-tiba seorang wanita berkerudung merah muda memanggilnya.
            Arman tergeragap. Ia lalu menoleh dan memaksa berdiri, dan sekejap rasa kantuk yang Ia rasakan tiba-tiba saja menghilang seketika. Bagaikan melesat begitu saja meninggalkan daerah sekitar pelupuk matanya. Konsentrasi otaknya langsung saja bertambah kembali lima puluh persen.
            “Kkkamu kann..” Mulutnya tergagap
            “Perkenalkan saya Rimbani Aldina.Sambil menelungkupkan kedua tangannya di depan dada di hadapan Arman. Wajahnya bersinar, teduh keanggunan.
            Arman dibuat takjub melihatnya jernih mata milik Rimbani. Hitam berkilau. Ia menghela nafas menenangkan dirinya. Kerudung berwarna merah muda panjang dan baju muslimah putih kombinasi merah muda yang menutupi seluruh tubuhnya. Membuat Rimbani begitu anggun, seperti bidadari yang baru saja turun dari langit ketujuh. Arman menggisik kedua matanya. Merasakan seolah-olah mimpi di siang bolong.
            “Bukan mimpi kan?” Arman berucap sambil tersenyum, mukanya nampak sedikit memerah.
            Rimbani tersenyum begitu mendengar ucapannya.
            “O ya, Arman Reihan.” Arman memperkenalkan diri dengan melakukan hal yang sama ketika Rimbani memperkenalkan dirinya tadi, menelungkupkan kedua tangan di dada.
            “Kak Arman sedang apa disini?”
            “Emm.. saya sedang mengantar Kakek untuk bersilaturahmi ke pondok pesantren Daarul Ihsan, kebetulan saya tadi sedikit kehausan. Jadi mampir dulu kesini untuk membeli minuman. Ini minumannya.” Arman menunjukkan soft drink-nya.
            Rimbani kembali tersenyum melihatnya.
             “Kamu sendiri darimana kok tiba-tiba ada disini?” Arman balik bertanya.
            “Tadi habis dari tempat tukang jahit dan rumahnya Bu Salamah, bawa pesanan seragam untuk sekolah dan mengantarkan kue lapis untuk pengajian ibu-ibu di mesjid sebelah. Dan setelah itu, baru kesini. Kebetulan Ummi meminta saya beli gula untuk di rumah.
            “Oo.. Rumahnya memang didekat sini ya?” Arman bertanya kembali sambil menggaruk-garuk kepalanya meskipun tak terasa gatal.
            “Iya, itu disana tak jauh dari sini mungkin sekitar seratus meter.” Jawab Rimbani dengan mengarahkan telunjuknya ke salah satu rumah yang terlihat tak jauh dari sana.
            Hati Arman begitu sangat bahagia, setelah bertemu dan mengetahui bahwa rumah Rimbani ternyata tak jauh dari situ. Ia tak bisa berbohong dalam hati kecilnya, bahwa ia jatuh cinta pada sosok Rimbani.
 Rimbani terkesan pada Arman. Sejak pertama bertemu dengannya, Ia melihat Arman pria yang baik, supel, dan periang. Wajah kalemnya memang terlihat seperti dingin. Padahal tidak. Terpancar benih-benih cinta diraut wajah antara keduanya.
“Kak Arman, saya pamit dulu, saya takut ummi sudah menunggu di rumah.
“O iya, silahkan.” Arman mempersilahkan Rimbani untuk meninggalkannya.
Rimbani berjalan perlahan, berhati-hati menyeberangi jalan. Ia lalu melangkah dipinggir jalan tanpa trotoar. Arman terus memperhatikan setiap langkahnya. Meskipun masih terlihat, Rimbani tampak menjauh dari pandangannya.
Arman tiba-tiba saja teringat,  untuk menanyakan sesuatu. Ia kemudian berjalan beberapa langkah dan berteriak memanggil Rimbani.
“Rimbani!”
Mendengar suara Arman memanggil, Rimbani pun saat itu langsung menoleh ke belakang dengan membalikkan badannya. Tapi tiba-tiba.
“Braaakkkk...” Sebuah sepeda motor menyerempet menghantam kesebagian tubuh Rimbani.
Allahuakbar.”  Teriak Arman spontan.
Rimbani sedikit terpelanting dan terjatuh di pinggir jalan. Tanpa pikir panjang, Arman segera berlari sekuat tenaga, sekencang-kencangnya ke tempat dimana Rimbani terserempet. Arman terus berlari sambil memanggil-manggil nama Rimbani. Bu Juzailah, ibu Rimbani, tak sengaja melihat kejadian itu dari depan rumah. Bu Juzailah seketika itu juga berlari untuk ikut mendekat. Beberapa orang terlihat datang mencoba untuk membantu.
“Rimbani, kamu tidak apa-apa.” Arman cemas akan keadaan Rimbani, lalu membantu membangunkan dan membawakan barang-barang yang tadi dibawanya.
Bu Juzailah terlihat cemas, menangis, khawatir terjadi sesuatu pada Rimbani, putri kesayangannya. Arman membantu Rimbani berjalan mendekat pada ibunya.
“Kamu tidak apa-apa Nak.” Bu Juzailah bertanya sambil tersedu-sedu.
“Rimbani, tidak apa-apa Bu. Hanya mengenai tangan saja.” mulutnya sedikit bergetar karena shock, dan meringis kesakitan.
Pengendara motor yang lalai itu mendekati Rimbani dan Ibunya mencoba meminta maaf. “Maaf, saya tidak sengaja, tadi saya khilaf, mengetik sms ketika mengendarai motor, maafkan saya.
Arman melirik geram ke arah pengendara motor itu. “Makanya lain kali jangan mengetik sms waktu mengendarai sepeda motor. Coba berhenti saja sebentar dipinggir jalan. Supaya tidak membahayakan orang lain.
Pengendara motor itu tertunduk meratapi kesalahannya.
“Sudah, tidak apa-apa Kak Arman.” Rimbani coba mengingatkan Arman.
“Sudah tidak apa-apa Pak, saya sudah maafkan, lain kali hati-hati saja.Tambah Rimbani, kakinya sedikit tertatih-tatih.
“Baik, terimakasih banyak, sekali lagi saya mohon maaf.” Ujar si pengendara motor lalu berbalik melangkah mendekati motornya yang masih tergeletak dijalanan.
Arman dan Bu Juzailah membantu Rimbani yang masih sedikit shock dengan kejadian itu, untuk berjalan. Selintas terbersit di kepala Arman ada rasa bersalah, ketika teringat ia berteriak memanggil Rimbani. Jika saja aku tak memanggilnya, mungkin tidak akan terjadi seperti ini. Arman berkata-kata pada hatinya. Terlukis rasa menyesal dibenak Arman.
“Rimbani, maafkan aku.” Arman mencoba meminta maaf.
“Tidak perlu meminta maaf, ini pasti sudah ijin-Nya.
Hanya delapan kata tapi mengandung arti yang sangat begitu luas. Arman terpana mendengar ucapan Rimbani. Rasa cintanya semakin kuat, dihati terdalamnya muncul keinginan untuk bisa selalu menjaganya.
            “Terimakasih ya de, sudah mau membantu.” Bu Juzailah berterimakasih pada Arman.
            “Ngomong-ngomong, Ade ini siapa dan darimana asalnya?” Tambah Bu Juzailah.
            “Saya Arman Bu, Kakak kelas Rimbani di SMUN 1 Sriwidari, saya juga pernah melihat Rimbani waktu orientasi kemarin. Saya asli Sriwidari sana, kebetulan sedang mengantar Kakek saya ke Darrul Ihsan.Jawab Arman.
            “Kalo begitu ayo mampir dulu.
            “O terimakasih Bu, sepertinya saya harus pergi untuk menemui Kakek saya. Mungkin lain kali saya mampir kesini.”
Arman sejenak berdiam, dengan wajah kalemnya ia memandang wajah Rimbani dengan halus dan Bu Juzailah. Tanpa ia sadari, Mulutnya tiba-tiba seperti melawan kehendak tuannya, tak tertahankan untuk berucap.
            “Saya, berjanji akan menjaga Rimbani.
            Perkataan Arman kala itu, sepertinya langsung mematung tubuh Rimbani, ia seakan tak percaya, matanya sedikit berkaca-kaca, dadanya bergetar, bibir merahnya merona seketika. Rimbani membalas menatap Arman dengan lembut.
            “Mohon, bimbing aku.” Rimbani ucap membalas.
            Bu Juzailah hanya bisa tersenyum melihat mereka berdua.
            Arman sontak langsung ikut tersenyum, kedua ujung bibirnya mengembang, “Kalau begitu saya permisi dulu, Rimbani mungkin harus istirahat.Ucap Arman pada Bu Juzailah dengan santun.
Rimbani dan Bu Juzailah pun mengiyakan. Lalu Arman berjalan pergi meninggalkan Rimbani dan ibunya, Setiap kaki melangkah di tepian jalan itu, dipikirannya terbayang slide-slide kejadian yang baru saja sudah ia alami, seperti sebuah momen penting dalam sejarah hidupnya.
Rimbani terus memandangi punggung Arman. Perlahan menjauh dari pandangannya. Ia seolah masih tak percaya, Arman akan melontarkan sebuah kata yang membuat hatinya seperti bunga melati baru mekar.

*****
To Be Continue 
Part 3 B 

Selasa, 09 Agustus 2011

Tulip Purple

Aku melihat setangkai bunga tulip
Pesona indahnya melambangkan keanggunan
Melambangkan kesetiaan, ketegaran dan kerendahan hatinya
Ia berbunga sederhana
Namun helainya menguncup menjaga hatinya
Aku melihat setangkai bunga tulip
Tangkainya tak tinggi 
Juga tak terlalu rendah tuk terinjak
Satu kelebihan sang bunga idaman
Membuatnya lebih mempesona meski banyak bunga terlihat
Aku melihat setangkai bunga tulip
Ia berbeda dengan bunga-bunga yang lainnya
Aku pernah memetik bunga dandelion
Tapi dandelion begitu saja pergi tertiup angin
Ku petik bunga mawar
Tapi durinya menyakitiku
Aku melihat setangkai bunga tulip
Ia banyak dikagumi meski ku tahu aku juga mengaguminya
Banyak yang ingin memetiknya meski aku tahu aku juga ingin memetiknya
Tapi apakah pantas ia ku petik?


Aku melihat setangkai bunga tulip
Dengan helai lembutnya ia tetap terbuka
Menanti talapak hangat yang menjaganya
Dalam penantiaanya ia bermekaran
Terus menguncupkan kuntum bunganya menjaga mahkota terindah
Aku melihat setangkai bunga tulip dari jauh
Ia terlihat cantik
Dengan telapak hangat ini
Apakah ia mengijinkan aku untuk menyentuhnya?
Hingga ia merasa damai
Apakah aku bisa memilikinya?
Hingga setiap saat bisa ku nikmati wanginya
Aku suka tulip ini
Karena tulip yang ini berbeda
Tulip Purple..