Seminggu berselang. Suasana di mesjid Al-Muttaqin atau mesjid sekolah terlihat berbeda dari biasanya, mesjid yang mampu menampung sekitar tujuh ratus orang itu kini dipadati oleh para jamaah yang ingin mengikuti gelar Malam Bina Ruhani Islam, acara tersebut diselenggarakan secara rutin oleh SMUN 1 Sriwidari setiap tahunnya.
Seluruh civitas academica SMUN 1 Sriwidari hadir untuk ikut serta di majelis ta’lim itu. Mulai dari kepala sekolah, para guru, karyawan tata usaha, penjaga sekolah, satpam dan para siswa-siswi. Bahkan ada juga warga sekitar dan orang tua murid ikut hadir. Terlihat, banyak dari para jamaah tidak kebagian tempat hingga harus duduk menggunakan karpet di halaman mesjid yang sudah disediakan panitia penyelenggara.
Setelah melaksanakan shalat isya acara Malam Bina Ruhani Islam itu akan dimulai. Lantai dua mesjid sudah dipenuhi oleh para jamaah perempuan, sebagian terlihat ada yang masih berdzikir dengan balutan mukena dan sebagian lagi ada yang sedang merapikan mukenanya. Dilantai utama mesjid para jamaah pria sudah antusias menunggu acara malam tersebut dimulai.
Disalah satu sudut luar mesjid, Arman terlihat begitu gelisah, kepalanya terus melongok melihat kearah gerbang masuk sekolah, arlojinya sesekali ia lihat, dan keringat di dahinya mulai menghiasi wajah kalemnya. Ia begitu gelisah, karena Ghufran yang diminta untuk mengisi acara pembuka sebagai pembacaan Al-Qur’an dalam Malam Bina Ruhani itu belum juga kunjung datang. Sedangkan, acaranya sepuluh menit lagi akan dimulai. Ia terus meminta Erlan, Yudi, Lutfi dan Firman untuk mencari informasi keberadaan Ghufran. Tak lama Ustadz Jaelani, guru agama sekolah, datang menghampiri Arman.
“Arman.” Ustadz Jaelani memanggil.
“Iya Pak Ustadz.” Arman menoleh lalu mencium punggung tangan gurunya itu.
“Arman, tadi Ghufran menelpon ke nomor sekolah. Katanya, maaf sekali dia tidak bisa hadir untuk mengisi acara kuro di acara Malam Bina Ruhani ini. Karena, ibunya mendadak sakit. Ibunya tidak ada yang menjaga selain dia.” Ujar Ustadz Jaelani memberitahukan.
“Inna lillah, jadi ini bagaimana Pak Ustadz, sedangkan acaranya sebentar lagi dimulai.” Arman semakin gelisah.
“Apakah ada temanmu yang lain, yang bisa menggantikannya?” Ustadz Jaelani bertanya dan mencoba menenangkan Arman.
“Aduh sepertinya tidak ada lagi Pak Ustadz.”
Ustadz Jaelani sesaat terdiam mencoba membantu memikirkan solusinya.
“Nah begini saja, tidak ada pilihan lain, kamu yang harus menggantikannya mengisi acara kuro yang menjadi pembuka di Malam Bina Ruhani ini Nak Arman. Bapak tahu, kamu kan sering belajar mengaji bersama Bapak, Bapak pikir bacaan Al-Qur’an kamu bagus.”
“Saya Pak Ustadz, aduh Pak Ustadz saya belum ada persiapan, sungguh!”
“Tidak ada pilihan lagi Nak Arman, kamu mau acara ini jadi berantakkan, kamu tidak perlu persiapan yang banyak cukup 10 menit saja untuk mencari surat apa yang akan kamu bacakan nanti, sesuai dengan tema-nya. Tema yang kamu angkat pada waktu persiapan kemarin apa?” Ucap Ustadz Jaelani sambil memberi perintah.
“Tema-nya, Keindahan Bersabar Pak Ustadz.”
“Ya sudah, Bapak yakin kamu bisa, Bapak Ambilkan Al-Qur’an-nya dan memberitahukan perubahan ini kepada kepala sekolah. Kamu siap-siap saja dulu.” Ustadz Jaelani tersenyum sambil memegang pundak Arman.
Jantung Arman berdegup kencang, keringat dinginnya semakin membanjir. Tak ada pilihan lain ia harus melaksanakan titah gurunya itu. Arman meminta Yudi sebagai wakilnya untuk mengontrol kegiatan selama ia memenuhi amanah dari gurunya, Ustadz Jaelani. Yudi mengiyakan perintahnya itu untuk sesaat mengambil alih. Arman pergi menenangkan diri sejenak dengan mengambil air wudhu kembali. Ia berdoa meminta pertolongan kepada Allah supaya diberikan kemudahan.
Langkahnya terasa sedikit berat, Ia belum tahu surat apa dalam Al-Qur’an yang akan ia bacakan dihadapan ratusan jamaah yang hadir malam itu. Arman masuk kedalam mesjid, mendekati Ustadz Jaelani yang juga bertindak sebagai pembawa acara.
“Arman ini Al-Qur’an-nya.” Ustadz Jaelani berbicara pelan.
Arman mengambil Al-Qur’an-nya dengan santun. Ia membuka Al-Qur’an itu dan memilih surat yang akan dibacakannya. Lalu ia memutuskan untuk membacakan surat An-Nahl ayat 1 sampai dengan ayat 50. Ustadz Jaelani melangkah menuju mimbar, untuk membuka acara Malam Bina Ruhani Islam SMUN 1 Sriwidari.
“Assalamualaikum, wr.wb. jamaah sekalian yang dimuliakan Allah. Bapak Kepala sekolah, para staf, para siswa-siswi, bapak dan ibu-ibu. Sebelumnya saya ucapkan terimakasih atas kehadiran bapak dan ibu di acara Malam Bina Ruhani Islam yang diselenggarakan oleh SMUN 1 Sriwidari ini. Sebelum acara taushiyah malam ini yang akan diisi oleh KH Rafiqin Al-Farisi, akan dibuka terlebih dahulu dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh salah satu siswa yaitu saudara Arman Reihan, kepada saudara Arman kami persilahkan.”
Arman melangkah kedepan kemudian naik ke mimbar menghadap pada jamaah. Ia membuka Al-Qur’an. Ustadz Jaelani dan Pak Sobirin memperhatikannya, berharap semua akan berjalan lancar. Arman membuka dengan salam. Hati Arman bergetar ketika mendengar jawaban salam dari seluruh jamaah yang ada didalam mesjid. Arman mendekatkan mix agar lebih dekat dengan mulutnya. Sesaat ia menghela nafas dan memulai membacakan surat An-Nahl ayat 1 sampai ayat 96.
Lantunan surat An-Nahl yang dibacakan Arman begitu menggema, alunan tajwid terdengar begitu indah, halus, masuk kedalam setiap relung-relung hati para jamaah. Di lantai dua, sesosok wanita anggun dengan aura keteduhannya, Rimbani, memperhatikan dengan seksama pria yang pernah menolongnya itu.
Para jamaah begitu menikmati setiap ayat surat An-Nahl yang dibacakan oleh Arman, hingga memasuki ayat terakhir, ayat 96.
“Maaindakumyanpadu wamaa indallaahi baaki walanajriyannalladiina sobaruu ajrohumbiahsani maakaanuu ya’ maluun.”
Surat An-Nahl ayat 1 sampai ayat 96 selesai ia bacakan dengan baik, sekitar satu jam Arman membacakannya. Kemudian, Arman menutup dengan mengucap salam dan hamdalah.
Para jamaah bagai tersihir mendengar lantunan bacaan Arman. Rimbani sesaat merasakan bahwa ia semakin kagum pada pria itu.
Arman turun dari mimbar, hatinya begitu lega, karena kemudahan yang diberikan oleh Allah. Ustadz Jaelani menyalaminya sambil tersenyum dan mengacungkan jempol kanannya. Beberapa orang yang berada di jajaran depan juga ikut menyalami, termasuk Pak Sobirin ia menyalami dan memeluk erat Arman dengan perasaan bangga. Lalu Pak Sobirin mempersilahkan duduk disampingnya. Arman pun duduk bersila disamping Pak Sobirin.
“Bapak bangga padamu, semoga kamu selalu mendapatkan keberkahan dari Allah ya nak Arman.” Pak Sobirin berkata pada Arman.
“Amin, terimakasih Pak, Insya Allah, saya masih harus banyak belajar.”
Pak Sobirin dan Arman kemudian melanjutkan, mengikuti rangkaian acara selanjutnya, yaitu taushiyah yang akan diberikan oleh KH Rafiqin Al-Farisi, kiai kondang dari pesantren Miftahul Huda Panglayungan.
Ustadz Jaelani kembali melangkah kedepan naik ke mimbar. Untuk memberitahukan acara selanjutnya.
“Baiklah, para jamaah yang dimuliakan Allah, untuk acara selanjutnya yaitu taushiyah yang akan disampaikan oleh KH Rafiqin Al-Farisi, alhamdulillah beliau sudah hadir, dan untuk itu kami persilahkan.” Ustadz Jaelani mempersilahkan KH Rafiqin Al-Farisi untuk memberikan taushiyah-nya. KH Rafiqin Al-Farisi pun naik ke mimbar lalu membuka dengan salam, membaca hamdalah dan shalawat kepada Rasulullah.
KH Rafiqin Al-Farisi sejenak terdiam lalu melanjutkan.
“Segala puji bagi Allah yang menggenggam langit dan bumi, segala kesempurnaan hanyalah milik Allah, yang tidak pernah ada yang salah, gagal, atau pun cacat didalam perbuatannya, semua sempurna. Berbahagialah bagi orang-orang yang meyakini kesempurnaan dan keagungan Allah SWT, sehingga menyikapi hidup ini penuh dengan baik sangka kepada Allah, bahwa setiap kejadian yang Allah ciptakan pasti ada hikmahnya, tidak ada yang kebetulan dan pasti bermanfaat bagi orang yang beriman, walaupun terkadang terasa pahit, tetapi pahit menurut nafsu boleh jadi manis menurut iman.”
“Sholawat dan salam semoga tercurah bagi rasul tercinta yang pribadinya amat indah menawan, rahmattan lil aalamiin.”
“Baik, saudara-saudaraku, malam ini kita akan membahas, salah satu asma Allah, yaitu Allah Yang Maha Penyabar, sesuai dengan tema-nya yaitu Keindahan Bersabar.”
“Bersabar diri itu merupakan ciri orang-orang yang menghadapi pelbagai kesulitan dengan lapang dada, kemauan yang keras, serta ketabahan yang besar. Ketika kita terhina, dilecehkan, direndahkan, tersinggung dan marah kita perlu kesabaran. Karena itu, jika kita tidak bersabar, maka apa yang bisa kita lakukan?”
“Apakah mungkin ada diantara saudara-saudaraku yang hadir di majelis ini memiliki solusi lain selain bersabar? Dan apakah ada diantara saudara-saudaraku mengetahui senjata lain yang dapat kita gunakan selain kesabaran?”
Dalam surat Al-Baqarah ayat 153 dijelaskan. “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
“Ada sebuah cerita. Dulu, seorang pembesar di sebuah negeri memiliki ladang gembalaan dan lapangan yang selalu ditimpa musibah, setiap kali selesai dari satu kesulitan, kesulitan lain selalu datang mengunjunginya. Meski demikian, ternyata ia tetap berlindung di balik perisai kesabaran dan erat menggenggam pedang keyakinan kepada Allah.”
“Seperti itulah orang-orang mulia dan terhormat bertarung melawan setiap kesulitan dan menjatuhkan semua bencana itu hingga terkapar di atas tanah.”
“Bersabarlah kepada Allah, dan sebaiknya bersabar sebagaimana kesabaran orang yang yakin akan datangnya kemudahan, mengetahui tempat kembali yang baik, mengharap pahala, dan senang mengingkari kejahatan. Seberapa pun besar permasalahan yang dihadapi, tetaplah bersabar. Karena kemenangan itu sesungguhnya akan datang bersama dengan kesabaran. Jalan keluar datang bersama kesulitan. Dan, dalam setiap kesulitan itu pasti ada kemudahan.”
“Ada sejumlah orang terkenal, yang memiliki besarnya kesabaran dan agungnya ketabahan mereka. Deraan musibah itu mereka anggap sebagai tetesan air dingin yang memercik di kepala mereka. Mereka tak tergoyahkan laksana gunung, dan menancap jauh ke dalam kebenaran. Dalam waktu singkat mereka dapat melupakan semua kesedihan itu dan wajah mereka kembali berbinar menyorotkan cahaya kemenangan. Bahkan, ada satu di antara mereka yang tidak hanya cukup bersabar, namun justru menghadang semua bencana itu dan berteriak lantang di hadapan musibah-musibah itu sambil menyatakan tantangannya.”
KH Rafiqin Al-Farisi menambahkan penjelasannya,
“Dalam sebuah hadits shahih disebutkan: “Tidak ada yang lebih sabar mendengar sesuatu yang menyakitkan daripada Allah. Karena, meskipun mereka menyekutukan Allah serta mengatakan bahwa Allah memiliki seorang anak dan seorang teman wanita. Namun Allah tetap memberikan kesehatan, memberikan rezeki serta menganugerahkan apa yang mereka minta.[1]”
“Rasulullah juga bersabda, Barang siapa yang selalu melatih dirinya untuk bersabar, maka Allah akan membuatnya menjadi penyabar.”
“Umar ibn al-Khaththab mengatakan, dengan kesabaran, kita tahu makna hidup yang baik.”
“Seorang penyair berkata, Engkau merangkak mencari mulia, dan orang-orang yang mencarinya berusaha sepenuh jiwa menempuh kelelahan. Mereka mengejar mulia hingga banyak yang jemu, yang akan menemukannya hanya yang sungguh-sungguh dan bersabar. Jangan mengira bahwa mulia adalah kurma yang akan kau makan, tak akan pernah kau dapatkan mulia sebelum pahitnya sabar.”
“Seorang motivator berkata, kesabaran adalah mutiara kehidupan.”
“Kemuliaan itu tidak akan pernah diraih melalui impian-impian dalam tidur. Kemuliaan hanya dapat diraih dengan tekad yang besar dan kerja keras.”
“Hidup ini penuh dengan perjuangan. Terutama bagi mereka yang memiliki cita-cita besar. Tapi bagi mereka yang tidak memiliki cita-cita besar tidak akan mampu melihat bahwa hidup itu penuh perjuangan. Yang ada mereka hanyalah mencari kesenangan belaka. Sabar berjuang tak hanya dalam menggapai cita-cita besar saja. Berjuang melawan rasa sakit dalam hati, berjuang melawan hawa nafsu, berjuang menunda kesenangan untuk mendapat kebahagiaan yang hakiki. Dan berjuang menemukan pasangan hidup. Semua butuh kesabaran.”
“Perjuangan pasti akan memberikan hasil, jika diiringin dengan kesabaran. Namun, pada kenyataannya. Kesabaran seringkali melemah ketika berada ditengah jalan. Rasa letih mulai menghinggapi diri, dan bisa saja berangsur turun. Sampai orang yang lemah kesabarannya mengatakan bahwa sabar ada batasnya.”
“Sabar itu bisa didefinisikan sebagai ridha, tenang, teguh, dan yakin. Sabar bukan berarti diam dan menyerah. Justru orang yang diam dan menyerah bertolak belakang dengan definisi sabar. Rasulullah SAW adalah orang yang paling sabar dan selalu sabar, tetapi beliau tetap berperang, tenang saat menghadapi tekanan, dan yakin bahwa kemenangan akan dicapai.”
Arman begitu seksama mendengarkan setiap perkataan KH Rafiqin Al-Farisi, begitu terasa masuk kedalam kalbu. Menjadi malam yang indah bagi Arman, hatinya begitu tenang, selain dapat menjalankan amanah dengan baik, juga mendapatkan curahan ilmu yang akan bermanfaat bagi dirinya. Dan tanpa ia ketahui, dirinya sesekali diperhatikan oleh seorang wanita anggun dan teduh, Rimbani Aldina.
Tiba-tiba Arman teringat, dia harus kembali memonitor jalannya acara Malam Bina Ruhani Islam bersama teman-temannya. Ia mohon diri kepada Pak Sobirin. Setelah mendapat ijin dari kepala sekolahnya itu, Arman beranjak dari tempat duduknya lalu perlahan melangkah keluar mesjid dengan santun, menuju teman-temannya yang menempati sebuah tenda khusus, dihalaman mesjid. Setibanya ditenda tersebut Arman langsung disambut oleh Yudi sambil menyalaminya.
“Alhamdulillah, selamat kawan, sudah aku bilang kamu pasti bisa.” Ucap Yudi sambil tersenyum pada Arman.
“Alhamdulillah, terimakasih.” Arman juga membalas tersenyum bahagia.
Erlan, Firman, Lutfi dan beberapa temannya yang lain juga ikut menyalami.
“Tadi bagaimana Yud, apakah ada masalah?” Arman bertanya pada Yudi tentang kondisi acara selama ia memenuhi amanah dari Ustadz Jaelani.
“Sama sekali tidak ada, keperluan logistik semuanya terpenuhi, dan makanan semua sudah dihidangkan pada para jamaah yang hadir.” Jawab Yudi.
“Alhamdulillah, terimakasih kawan.” Arman berucap syukur, karena acara malam itu berjalan lancar dan menjadi malam yang indah baginya.
Arman kemudian melanjutkan mendengarkan kucuran ilmu dari KH Rafiqin Al-Farisi, di tenda bersama teman-temannya sambil mengontrol jalannya acara. Dari speaker mesjid mengalir suara.
“Allah bersama-sama orang yang sabar, menguatkan, memantapkan, meneguhkan, mengawasi, dan menghibur mereka. Allah sebagai tempat bergantung, sehingga kita akan terlepas dari keputus-asaan saat menjalani perjuangan. Hidup memang penuh dengan perjuangan, tetapi selama kita bersabar kita tidak perlu takut karena Allah bersama orang-orang yang sabar.”
Malam itu, terlihat bulan sabit di langit, bagai tersenyum menerangi hati. Ribuan gemerlap cahaya bintang, bagai memberikan keindahan pada nurani semua jamaah yang hadir. Beautiful night, malam yang indah.
*****