Home

Minggu, 23 Mei 2010

Sayap Putih: Pengamen Jalanan

Wajah ini membayang samar dibalik kaca berembun.
Tatapan mata itu begitu kosong, mengikuti laju jalanan.
Aspal-aspal hitam basah baru terguyur hujan.
Aku berpikir...
Pernahkah mengalaminya??
Sesuatu hal yang kau kira akan berjalan baik, namun berakhir tak semestinya??
Kali ini aku mengalaminya kawan.. 
Membuatku kembali terhempas.

Ada sebuah kata yang selalu aku jauhi.
Selalu ku mengelak ketika ia datang.
Selalu ku berlari menjauh ketika ia mendekat.
Bahkan selalu ku tutupi ketika ia terlihat.
Namun kini ia seakan menyergapku dengan tiba-tiba
Kata apa itu kawan... Pesimis kawan.. Pesimis!!!!
Tujuh huruf itu hadir memeluk ku.. lembut.

Gitar pengamen jalanan menghenyakkan ku dari lamunan.
Lantunan lagu suara merdu... 
Membangunkan ku dari sebuah tempat tak ku kenal.
"Children don't stop dancing, believe you can fly away, away".
Nyanyian itu keluar dari mulut sang pengamen jalanan.
Seakan ia menampar dan mengingatkan ku.
Hati serasa kembali disiram air hujan, padahal hujan baru saja turun.

Terimakasih wahai pengamen jalanan.
Kau telah mengingatkan aku.. 
Untuk terus menari-nari ditengah angin badai yang sedang menerjangku.
Maaf ku hanya bisa menghargaimu dengan sebuah kertas bernilai 1 dengan 0 tiga kali.
Pengamen jalanan pun tersenyum.
Terimakasih.. Terimakasih... Yaa Rabb!! 
Engkau telah memberi hidayah lewat pengamen jalanan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar