Hallo Guys! Hari ini saya coba mencari-cari arsip dalam hardisk otak saya yang mungkin menarik bisa dijadikan sebuah cerpen, itung-itung belajar juga, bikin sebuah tulisan. Sampai akhirnya saya menemukan arsip yang mungkin sudah beberapa tahun tersimpan. Sama sekali tidak berdebu, di rayapi kutu, atau ada bagian yang hilang. Hanya saja ada sedikit bekas terbakar. Tapi tidak apa-apa, tulisannya masih bisa terbaca. Ketika membukannya saya memang sedikit enggan untuk membacanya. Namun, bila diresapi mungkin ada pelajaran lebih bisa diambil. Lalu saya klik enter, agar terkirim pada saraf-saraf tangan untuk mengetiknya. Kemudian, cerpen ini, aku beri judul "Sebenarnya Aku Bekerja Untukmu". Selamat menikmati jamuan!!.
Meskipun siang begitu terik terasa menyengat namun angin musim semi mampu menghangatkan suasana siang itu. Mereka berjalan berdua, didatarnya sebuah jalan kompleks perumahan. Kiri-kanan berjejer hamparan rumah-rumah, terlihat tak ada satupun rumah bertipe 36 dengan kualifikasi SSS, semuanya ada dalam kisaran M, mewah maksudnnya. Dibelakang kompleks berdiri sebuah bukit hijau, menyejukan mata. Hebat sekali para pengembang kompleks, keuntungan bisa menjadi lebih tinggi karena bukit itu. Ashlan dan Sarah terus berjalan. Sampai tiba disebuah rumah, Sarah membuka pintu gerbang, masuk bersama Ashlan. Halaman rumah yang indah. "Teng..Tong..", suara bel terdengar. Sarah menekan bel. Ashlan hanya duduk diam saja dibelakang Sarah, membuka tali-tali sepatunya. Tak lama ibu, berusia sekitar 41 tahun membukakan pintu. Sarah langsung mencium tangannya.
"Assalamualaikum, Bu". Ucap Sarah, Pada ibunya.
"Waalaikumsalam". Jawab ibunya, sambil melihat kearah Ashlan. "Eh, ada nak Ashlan juga ternyata, ayo silahkan masuk".
Ashlan pun masuk, Sarah mempersilahkannya untuk duduk disebuah sofa empuk. Ashlan duduk, matanya mengitar kesekeliling rumah. Sungguh megah rumah itu. Sarah duduk di depannya. Berbincang empat mata, panjang lebar dengan Ashlan. Di tengah-tengah perbincangan mereka, tiba-tiba Ibunya Sarah, Bu Fatma, datang membawakan minuman.
"Silahkan diminum dulu ya".
Ashlan menganggukan kepala. "Terimakasih Bu, aduh jadi merepotkan saja", ujarnya.
"Tidak apa-apa, ibu tinggal dulu ya".
"Iya Bu".
Sarah dan Ashlan kembali melanjutkan obrolan mereka, namun ditengah-tengah perbincangan itu hati Ashlan seakan terdiam. Ketika Sarah bertanya. "Mau kah kau meminangku?". Ashlan bergetar, bingung bercampur, senang. Kenapa dia bertanya seperti itu, padahal Sarah masih berada dibangku kuliah semester 4. Ashlan menjawab bahwa ia begitu mencintainya. Mencoba memberikan apa yang diminta Sarah. Ketika sudah lulus S1 nanti. Siang berjalan perlahan kearah senja. Ashlan berpamitan mohon diri untuk pulang ke tempat kost-nya.
Sepanjang perjalanan Ashlan terus saja memikirkan permintaan Sarah, wanita yang dicintainnya. Ia bertekad untuk segera menyelesaikan kuliahnya mengingat dia masih dalam perjalanan, mengakhiri tugas akhirnya. Setiap hari ia begitu bersemangat mencari-cari bahan keperpustakaan kampus, mengejar dosen pembimbing, bahkan dimalam hari ia harus mengurangi waktu tidurnya. Hanya sesekali saja bisa bertemu dengan Sarah, hingga suatu saat waktu Ashlan semua tercurah untuk Tugas Akhirnya. Sarah kecewa, karena Ashlan jarang menemuinya.
Suatu hari, Sarah bertemu dengan seorang pria ketika sedang berjalan-jalan disebuah mall bersama sahabat-sahabatnya. Bukan kebetulan tentunya. Sarah sudah berjanji bertemu karena sebuah urusan penting, dengan pria bernama Fery yang ternyata seorang karyawan sebuah perusahaan jasa. Mereka berbicara begitu serius. Ditempat lain, Ashlan terus menguras otak, memperbaiki, dan menambah kekurangan dalam Tugas Akhirnya. Sampai kepalanya hampir rusak. Tapi, Ashlan berhasil menyelesaikan tugas akhirnya, siap diajukan ke muka sidang skripsi. Ia menunggu, untuk sidang. Dari hari ke hari, minggu ke minggu, hingga sampai 2 bulan. Diwaktu itu ia sibuk belajar, mempersiapkan segalanya untuk masa sidang nanti. Pertemuan dengan Sarah?? Berkurang drastis. Sarah tidak bisa diperlakukan seperti itu, sikapnya berubah drastis juga.
Suatu hari, Ditengah rasa rindu yang membuncah, Ashlan bertemu dengan Sarah. Namun, Ashlan merasakan hal yang jauh berbeda dari biasanya, sikap dan prilaku Sarah begitu aneh. Terus menekan pikiran dan hati Ashlan. "Sarah tidak mau terus berada jauh dari Ashlan." ucapnya. Ashlan berpikiran itu suatu hal wajar dirasakan Sarah, tapi harus bagaimana lagi tubuhnya tidak bisa di kloning. "Lupakan aku". tiba-tiba kata itu keluar dari bibir Sarah. Ashlan heran dibuatnya. "Kenapa kamu berkata seperti itu?", Ashlan bertanya. "Sudah, lupakan saja aku", Sarah meminta memelas. Mukanya terlihat berbeda dari biasanya. Menekan, berkata tak terima atas perlakuan Ashlan, menyalahkan Ashlan, hingga Ashlan merasa seperti orang kecil dihadapan Sarah. Aahh.. memang Ashlan itu hanya orang kecil. Hanya pejalan kaki. Finally, Ashlan mengiyakan permintaan Sarah, untuk melupakan dirinya, pergi jauh-jauh dari wanita yang dicintainya. Hati Ashlan seketika itu hitam pekat, terasa seperti terhimpit ribuan ton besi baja. Sesak. Ia berdiri dihamparan padang ilalang tak tertempa di semenanjung senja. (Bersambung). (by RSA)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar