Sejak seminggu perpisahannya dengan Sarah, Ashlan begitu kesepian. Buku-buku yang biasa dibaca untuk persiapan sidang tugas akhirnya kini jarang tersentuh. Suatu ketika, ia berjalan disengatan terik matahari tepat mengarah diatas ubun-ubunnya. Melangkah ke mesjid kampus untuk melaksananakan shalat dzuhur. Kala itu, iqamat sudah dikumandangkan. Tanda shalat dzuhur akan dimulai. Ashlan segera mengambil air wudhu, lalu berdiri menjadi makmum. Ia shalat dengan khusyu. mengikuti alunan indah bacaan Imam.
Selesai shalat, ia duduk mengikat kencang tali-tali sepatunya. Terdiam sesaat menghela nafas panjang. Lalu mengikuti arah langkah kakinya kembali, entah kemana dia mau pergi. Namun, dalam derap langkah kakinya itu, ia melihat punggung seorang wanita, berjalan seirama. Ashlan kenal dengan gaya langkah kaki itu. Ya, Ashlan melihat Sarah berjalan kesebuah mobil dan menaikinya. Ia berjalan perlahan. Mobil itu memutar arah, melaju berlawanan arah dengannya. Makin lama makin mendekat, hingga, wwuuusshhh... berpapasan!!. Pandangan Ashlan jelas melihat Sarah duduk di kursi depan mobil bersama seorang pria tak dikenal, pengendara mobil tersebut. Mata Ashlan dan Sarah saling bertemu. Hati Ashlan bergemuruh, sebuah batu kerikil tajam masuk ke rongga dadanya, perih menyesakkan. Ashlan menundukkan kepala. Mobil itupun terus melaju melesat.
Ditengah langkah kakinya yang mulai lelah lunglai handphone Ashlan berbunyi. Ashlan melihat nomor Handphone Sarah memanggil-manggil. Ia pun dengan berat hati mencoba menerimanya.
"Halo". Ashlan menjawab.
"Maafkan aku, aku berusaha membuatmu tak suka padaku, tapi rasamu tak pernah berubah. Maafkan!"
Tuuutt.. tuuutt.. ttuuutt.... panggilan itu langsung terputus. Ashlan menghela nafas, memasukan kembali handphone itu kesakunya. Ashlan menarik kesimpulan, bahwa Sarah lebih mencintai pria lain. Pikirannya semakin kusut dikala harus mengikuti ujian penting kelulusan S1-nya. Ia terus berjalan membelah perkotaan yang sibuk, sangat sibuk.
Sidang kelulusannya tak kunjung digelar, setelah bertanya kepada pihak kampus ternyata salah satu dosen pembimbingnya sedang pergi ke Jerman. Kira-kira 2 bulan lamanya. Ashlan tetap hanya bisa diam. Ditengah ketidakberdayaan hatinya.
Sebulan kemudian
Ketika sedang duduk menikmati sejuknya udara taman kampus, tiba-tiba. "Ashlan". Seorang wanita memanggilnya. Ashlan berbalik, ternyata Sarah yang memanggil. Ia mendekati Ashlan. Duduk disampingnya. Berkata-kata, membuat Ashlan kembali bagai liliput. Namun, kali ini hati Ashlan harus berbesar hati dan berlapang dada. Menerima apa yang menimpa dirinya, ia berpikir bahwa tidak ada sehelai daun pun jatuh tanpa sepengetahuan Sang Penciptanya. Tak lama, Sarah pergi kembali meninggalkan Ashlan.
Ashlan, menjabarkan isi dari perkataan yang baru saja dilontarkan oleh Sarah. Rasa cinta Sarah pada Ashlan hilang, katanya. Entah benar-benar hilang atau dipaksakan untuk hilang. Permohonan maaf memang sempat terucap. Tapi apa semudah itu. Ashlan tertunduk tak berdaya. Matanya berkaca-kaca. Berucap doa... "Baaraakallahulaka waa barakallahu alaika waa jama'a bainakhuma fii khaiir". Sarah akan menikah minggu depan dengan pria yang ditemuinya ketika di mall, Fery. Pria berusia 26 tahun yang seorang karyawan itu. Sarah menyimpan hati pada pria itu.
Ashlan menatap luasnya langit biru, mencari cahaya disepanjang jalan hidupnya. Berharap menjadi mutiara indah. Tanpa menyimpan rasa dendam, ia melaju kearah sebuah impian. (by RSA)
*KINI-rossa*
BalasHapuskusadari semua jln ku, tak berarah kepadamu.
mungkin salah diri ini memikirkanmu.
aku kini tlah berdua dan tak seindah cinta yg lalu. yang jalan dan jalin tanpa restu.
ku akhiri namun tak berakhir. ku hindari hati tak ingin terpisah. bila kau dengan yg lain, sesungguhya ku tak rela.
thx. anonim
BalasHapus