Home

Selasa, 01 Juni 2010

Sayap Putih: Ambisi Vs Ambisius

Aku duduk di atas putaran roda-roda menatap putihnya bukit batu-batu kapur.
Tiba-tiba seorang ibu duduk di kursi kosong sebelahku.
Aku hanya diam tak acuh, menikmati datar halus jalan tol.
Ia bertanya padaku, dan aku menjawab setiap pertanyaannya. lalu...
Suatu hal yang tidak bisa aku sangka, ia seorang ibu pemberi inspirasi.
Memberiku cerita sebuah makna untuk menyusuri kehidupan ini.

Ia berkata: "dalam menjalani hidup ini, pasti ada jalan lain untuk mendapatkan kebahagiaan. Asal ada kemauan kuat dan yakin, serta ikhlas untuk terus berusaha pasti akan kau dapatkan keindahan hidup itu. Janji Allah tidak akan diingkari. Asalkan jangan lupa shalat lima waktu dan berdo'a. Jangan terlalu ambisius." katanya.
"Kamu tau perbedaan ambisi dan ambisius." Tambahnya.
Aku tersenyum tak tahu maksudnya. 
"Ambisi itu adalah segala sesuatu hal yang apabila kamu inginkan, kau capai dengan keringat sendiri, perjuangan sendiri, dimulai dari nol. sedangkan, ambisius yaitu seseorang yang akan melakukan apapun untuk menggapai segala impian-nya bagaimana pun caranya termasuk, menghalalkan segala cara."
"Kamu harus punya ambisi, tapi jangan ambisius"
Hatiku yang sedang layu, seraya ditaburi pupuk pembangkit semangat. Memberikan energi cahaya lampu-lampu inspiratif. 
Ia terus berkata seakan membangunkan aku dari tempat yang tak pernah ku tapakan kaki sebelumnya.
"Jangan takut, jangan malu... karena kamu tidak merugikan orang lain. Kalo kamu merugikan orang lain dan keluar dari hukum Allah, hukum bangsa, dan hukum masyarakat, kamu wajib untuk malu." ujarnya.
Ya.. aku berpikir dan aku merasa, saat ini , tubuh ini berada di kotak kehidupan. Tak mentaati aturan seperti hukum-hukum yang dijelaskan ibu tua itu, maka jelas aku berarti gagal.
Suatu saat aku ingin menjadi seseorang yang luar biasa. Menjadi pembahagia bunga-bunga karunia indah pelengkap hidupku. Bahkan, menjadi imam yang baik.
Raga dan jiwa akan ku persembahkan untuk menggapai mimpi-mimpi pelangi indah, kemudian mendekap lembut setiap angan-angan. Serta, ku dapatkan keramahan sang cinta.
Terimakasih bu.. aku ucapkan!! semoga selalu kau bahagia dan diberkahi Allah di usia mu yang akan masuk ke-61 tahun itu. 
Roda terhenti, ia beranjak dari kursi pengantar pada sebuah tujuannya. Pergi melangkah menuntaskan setiap keinginan.
Roda kembali berjalan, aku menatap keluar melihat pohon-pohon saling berkejaran, sawah-sawah baru dibajak dilengkapi benih padi baru tumbuh dan kabut tak menyapa menutupi bukit-bukit hijau.
Sayap-sayap semangat kembali mengembang, membawa tubuhku terbang, melesat dari tanah ku berpijak menuju hamparan langit biru.
(By Rahman Sophal A)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar