Bogor-Jakarta
Cerita kereta serta bis kota yang ku tumpangi tak pernah lepas dari hal-hal kecil yang mengusik dan kadang merasa mengganggu.
Bagaimana tidak, sedang enak-enaknya duduk mereka datang silih berganti dengan alasan mengais rejeki.. kami belum makan.. daripada kami mencuri, ikhlas anda halal bagi kami.
Tapi sejujurnya aku ikut senang dan merasa terhibur kalau yang mereka sajikan lebih kreatif dan menggelitik.
Pengamen dengan semua perlengkapannya dari mulai gitar alat paling populer, ukulele dengan lagu khas seberang, trampolin yang merdu, kendang yang terus bertalu, biola yang mendayu ataupun hanya bermodal kastanye dari sebotol beras dan pasir.
Mereka hebat.. berteriak keras nyanyikan kisah.. ceritakan pengalaman orang-orang besar serta lagu-lagu kenangan dari seniman kondang, tak lupa terselip getir tangis mereka dalam kolong gelap.
Mereka total sekali dalam menjalani kesehariannnya.
Penyair jalanan sibuk dengan kertas-kertas yang mereka bangga digadangkan, ini ciptaan kami. Mereka lincah celoteh Jakarta yang panas.. Jakarta yang macet serta Indonesia yang numpuk orang-orang seperti dia, aku, mereka bahkan Tuan Presiden. Lantang sekali.. berani sekali.
Aku suka yang demikian, kreatif dan total.
Seribu pun begitu ringan.
Tapi aku pun benci..!!
Aku benci pengemis yang hanya mengandalkan kemiskinannya.. kerapuhannya.. ketidakberdayaannya.
Ia tak berteriak tapi aku yakin Ia sanggup, ku lihat sehat.. Ia segar.
Benar-benar membosankan.
Apa aku yang belum ikhlas..?
Belum total...!!
Cerita kereta serta bis kota yang ku tumpangi tak pernah lepas dari hal-hal kecil yang mengusik dan kadang merasa mengganggu.
Bagaimana tidak, sedang enak-enaknya duduk mereka datang silih berganti dengan alasan mengais rejeki.. kami belum makan.. daripada kami mencuri, ikhlas anda halal bagi kami.
Tapi sejujurnya aku ikut senang dan merasa terhibur kalau yang mereka sajikan lebih kreatif dan menggelitik.
Pengamen dengan semua perlengkapannya dari mulai gitar alat paling populer, ukulele dengan lagu khas seberang, trampolin yang merdu, kendang yang terus bertalu, biola yang mendayu ataupun hanya bermodal kastanye dari sebotol beras dan pasir.
Mereka hebat.. berteriak keras nyanyikan kisah.. ceritakan pengalaman orang-orang besar serta lagu-lagu kenangan dari seniman kondang, tak lupa terselip getir tangis mereka dalam kolong gelap.
Mereka total sekali dalam menjalani kesehariannnya.
Penyair jalanan sibuk dengan kertas-kertas yang mereka bangga digadangkan, ini ciptaan kami. Mereka lincah celoteh Jakarta yang panas.. Jakarta yang macet serta Indonesia yang numpuk orang-orang seperti dia, aku, mereka bahkan Tuan Presiden. Lantang sekali.. berani sekali.
Aku suka yang demikian, kreatif dan total.
Seribu pun begitu ringan.
Tapi aku pun benci..!!
Aku benci pengemis yang hanya mengandalkan kemiskinannya.. kerapuhannya.. ketidakberdayaannya.
Ia tak berteriak tapi aku yakin Ia sanggup, ku lihat sehat.. Ia segar.
Benar-benar membosankan.
Apa aku yang belum ikhlas..?
Belum total...!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar