Home

Sabtu, 07 Agustus 2010

Episode Hitam : Mutiara yang tak hilang

Aku.. dia dan sekelompok orang lainnya, semangat mendayung menuju tengah.
Tempat air dalam yang tenang, tempat mutiara itu bersemayam menunggu para pemburu, petualang.
Aku terpana pada sejarah dan aku pun menceburkan diri, larut bersama harapan.
Aku menyelam timbul tenggelam, napasku tersengal.. puisi jiwaku terkuras dalam keyakinan, mutiara penunggu lautan dalam.
Ku lihat dia.. mereka, terus meluncur dengan kepandaian..dengan semangat..dengan sarana yang hebat, mutiara masih jauh tertutup lumpur pasir.
Seakan menantang.. seakan mengharapkan kami.. aku segera datang.
"Datanglah segera penyelam hebat, datanglah cepat dengan tangan kuat, cengkram kikis pasir karang yang menekan pundak.. biarkan aku bersinar", bisiknya.. diantara deras arus dalam.
Upaya yang ku bisa telah memapahku lebih dalam dan lelah tapi sinarnya tak dapat ku sentuh.. terlalu menyilaukan buatku hingga aku bergerak menjauh, otot kaki ku lemaskan dan biarkan badan ini hanyut terbawa takdir.
Mutiara semakin terang saja walaupun tubuhku kian jauh..walaupun pandanganku kian kabur.. sayang Ia tak melambaikan tangan. Susah, dan memang Ia begitu.
Angkuh dengan keindahannya..
Angkuh dengan ketegarannya melawan arus..
Tetap anggun meski tangan-tangan itu tak henti ingin menyentuh..
Tetap tertegun dalam senyum yang sepi, buatku..

Aku sudah ditepian, menggulung tali jangkar kapal menyulam jaring yang robek dan meruncingkan ujung panah alat tempur andalan, kosa kata murahan.

Mataku beringas.. bibir rapat segaris telinga tajam terima kabar.
Ia telah dijemput mentari..
Ia telah merasakan sepoi angin senja..
Ia telah naik jangkar sekian hari lalu bersama perahu yang tak sengaja lewat..

Aku yakin itu sengaja.. tak terjadi begitu saja seperti cerita kebanyakan, dan petualang itu telah menang.


Mutiara itu tak hilang..

Tetap bersinar meskipun di beranda orang..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar