Home

Sabtu, 23 April 2011

Episode Hitam: Seperti itukah cinta-mu, ibu..?

Bocah itu..

Aku melihatnya sejak garis nafkah ku terseret jauh bantalan kereta. Pagi, siang, malam dia terlelap di pangkuan seorang Ibu muda.

Aku menyaksikannya melewati sesak kotor gerbong dengan lelap yang tak kunjung terjaga, selelap-lelapnya.
Ia tidur di buai alunan musik dari tape recoder berupa box hitam yang terselempang sekaligus menjaga kau yang menggantung.
Sekian tahun sudah ku kejar garis nafkah ini melebihi investasi ku atas keringat yang tak terbayar.
Sementara kereta masih tetap sama, terus menggeruduk mendecit-decit teratur seakan tangis sedih yang tak kunjung usai
Kau pun tumbuh rupanya..
Tubuh mu gemuk meliuk-liuk terpaksa mengiringi hentak-hentak musik yang ibu mu bawa

Gerak mu kaku..

Gerak mu tak seriang hati..
Kau seperti robot dengan remote kontrol..
Tak boleh berhenti selagi alunan suara ibu mu tersaruk..
Jelas sekali jika kau tampak malas bergoyang tangan ibu mu yang ku sanksikan pernah membelai mu sayang, begitu ringannya memukul tepat di kepala kecil mu..
Tak..tak..tak..
Apa kau menangis, tidak..
Seisi gerbong seakan berharap kau menangis, tidak kau tidak setitik pun menjatuhkan air mata..
Sudah hilangkah semua kesedihan mu? terbawa lelap yang dulu kau jalani
Ataukah itu tindakan tanpa protes yang kau jalani sebagai tanda terima kasih untuk seorang ibu yang telah melahirkan mu?..

Kereta bergemuruh seakan paham melaju cepat membawa semua kemuramannya

Membuyarkan lamunan ku yang berharap anak itu tetap terlelap seperti tahun-tahun yang lalu

Lelap yang tak pernah memimpikan kau akan seperti sekarang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar