1
Merpati Putih
Suasana pagi selalu terasa menawan
Udaranya yang sejuk, menyegarkan setiap imaji
Langkah ku sempat terhenti di hangatnya tetesan embun pagi
Sungguh indah ..
Sesaat, aku terdiam menatap birunya langit
Aku melihat seekor merpati putih terbang ke ujung langit
Menembus cakrawala, membiaskan warna sejuta indah
Aku terpesona dengan merpati putih yang terbang ke ujung langit
Mungkin menghilang di ujung kehidupan
Pagi menawarkan aroma kesejukan dan kedamaiannya. Suara musik riang pagi itu menerbangkan melodi-melodi indah, membangunkan siapapun untuk kembali bermimpi di siang hari. Semilir angin menerpa dedaunan membawanya jatuh keatas tanah, pohon-pohon di halaman sekolah sesekali bergoyang menari-nari dihempas angin. Seorang gadis berparas anggun dengan balutan jilbab putih, kemeja putih panjang dan rok panjang berwarna biru yang ia kenakan serta sebuah tas dipunggungnya, berlari di lorong-lorong depan kelas bersama beberapa teman-temannya yang tak lama ia kenal. Gadis itu begitu tergesa-gesa. Ia mengikuti hari terakhir orientasi siswa baru di SMUN 1 Sriwidari. Sebuah sekolah terpencil di pesisir selatan Kota Sukabumi. Sawah-sawah hijau dan bukit-bukit bergelombang terhampar indah di sebelah timur SMU. Pohon-pohon pinus di hutan kecil pinggir sekolah pasrah pada sorotan matahari pagi hingga ujung bayangannya bisa diinjak-injak di atas tanah, bukit ilalang yang tak terlalu tinggi serta sungai kecil yang mengalir meliuk-liuk mengarah kebelakang sekolah, menyajikan nuansa pemandangan asri di sekitarnya.
Kabut tipis melayang perlahan di atas daun padi, kemudian menghilang tersibak cahaya matahari yang hangat. “Cepat... cepat... cepat... ayo lari-lari!!!” terdengar suara teriakan orang-orang berjaket almamater berwarna hijau tua, kemejanya dilengkapi dasi hitam dan menggunakan celana panjang abu-abu khas, berjejer dilorong-lorong depan kelas membentuk barikade panjang mengarahkan kesuatu ruangan. Tatapan mata sinis tak pelak membuat takut yang melihatnya. Dengan gaya kalem, menunjukkan sosok wibawa yang diciptakan spontan hanya untuk sesaat menutupi topeng wajah aslinya. Gadis anggun nan jelita itu terus berlari beriringan bersama peserta lainnya. Hingga akhirnya ia sampai di sebuah gedung aula. Gadis anggun itu adalah Rimbani. Ia melihat aula yang penuh dengan arogansi kemalasan. Robekan kertas, berserakan dilantai putih yang berubah menjadi warna cokelat, sampah plastik bekas makanan terlihat disudut-sudut bangunan dan debu-debu beterbangan membuat sesak di pagi yang sejuk itu.
“Kalian lihat!! disekitar kalian banyak sampah, ayo bersihkan dan pungut sampah-sampah yang kalian temukan di aula ini lalu masukkan kedalam tong sampah yang disediakan. Kalian mengerti??!!” teriak salah seorang pengguna jaket almamater.
“Mengerti..!!” sontak aula itu bergemuruh.
Para siswa baru itu memunguti sampah-sampah yang mereka lihat, termasuk Rimbani. Ia juga memunguti sampah-sampah yang masih berserakan diruangan tersebut. “Selintas terlihat memungut sampah adalah suatu hal yang sepele tapi itu akan memberikan sebuah pelajaran yang sangat berarti untuk membangun mental orang-orang di bangsa ini”.
“Memungut sampah adalah suatu hal yang bukan sia-sia, terapkan dimanapun kalian berada nantinya, dan selalu kalian simpan sampah pada tempatnya. Apa kalian siap untuk melaksanakannya?” tanya ketua orientasi yang bernama lengkap Arman Reihan, laki-laki berparas tampan dan kalem. Ia salah satu siswa kelas tiga jurusan IPA. Dan ia menjabat sebagai Ketua OSIS.
“Siap kak” jawab seluruh para siswa baru secara serentak.
“Apa yang kalian rasakan setelah memunguti sampah-sampah itu? Apakah ada salah satu dari kalian yang ingin mencoba memberikan pendapatnya?” kembali Arman bertanya dengan lantang.
Tiba-tiba salah seorang siswa mengacungkan tangannya
“Ya, kamu!!” Arman menunjuk siswa yang mengacungkan tangannya itu.
“Rasanya nyaman bila dipandang dan membuat betah siapapun yang menempatinya” jawab seorang dari peserta orientasi yang dengan berani mengacungkan tangannya dan ternyata ia adalah Rimbani.
Dengan percaya diri Rimbani berkata, “Siapapun mendambakan kenyamanan disekitarnya, siapapun tak ingin mencium bau busuk dan memandang sampah yang menggunung atau berenang-renang di sungai yang bersih. Membuang sampah pada tempatnya mungkin hal yang sepele, tapi jika didasari dengan keimanan, kandungan maknanya akan sangat luas. Keindahan itu sebuah anugerah”.
“Bagus, oleh karena itu biasakan kalian membuang sampah pada tempatnya dan jangan ragu untuk memungut sampah karena tidak akan sia-sia”. Arman berkata sambil sesaat terdiam terdecak kagum melihat sosok Rimbani yang anggun dan terpancar keteduhan diwajahnya. Dalam hatinya seolah ia bertanya-tanya siapa perempuan dibalik jilbab putih itu.
Waktu kala itu menunjukan pukul delapan, setelah membersihkan ruangan aula, acara utama dari pihak sekolah pun dimulai. Pagi itu, Kepala Sekolah SMUN 1 Sriwidari, Pak Sobirin, memberikan sambutan di hari terakhir masa orientasi. Pak Sobirin dikenal seorang tokoh penting pendiri dan pembangun sekolah tersebut, menjadi terus maju dan berkembang, mampu menghasilkan tunas-tunas bangsa yang memiliki cita-cita kuat dan tanggung jawab. Pak Sobirin dikenal seorang yang sangat baik, selalu memberikan motivasi dan berbagi cerita pengalaman kepada para siswa-nya dan juga sosok yang sangat disukai dikalangan para siswa dan para guru. Pak Sobirin yang didampingi Pak Hamid sebagai perwakilan dari Bagian Konseling dan Bu Iffah sebagai perwakilan dari Kesekretariatan, bersama memasuki ruangan aula dan duduk dibangku podium. Pak Sobirin membuka acara tersebut dengan mengucapkan salam terlebih dahulu.
“Anak-anak tadi saya melihat kalian diminta untuk membersihkan sampah yang ada di ruangan ini, dan apa hikmah yang kalian dapatkan?” kata Pak Sobirin.
“Itu mengajarkan kita tentang bagaimana rasa tanggung jawab sosial itu harus ditanam di hati kalian, karena akan berguna untuk kalian nanti. Kita harus peduli akan hal itu. Tanggung jawab sosial memang suatu hal yang harus dilatih, meskipun harus dari suatu hal yang terkecil seperti memungut sampah lalu menyimpannya pada tempat yang sesuai”.
“Masih banyak orang-orang di negeri ini yang tidak mempedulikan hal tersebut. Lihat ketika sampah-sampah mengotori sungai, seraya berlomba berlari mengikuti arus dan menyumbat disela-sela pintu air. Itu memperlihatkan egoisme dan tidak memiliki rasa tanggung jawab untuk menjaga anugerah keindahan. Atau lihat ketika limbah pabrik mengotori sungai menjadi hitam pekat, berbau bahan kimia yang menyengat, merugikan banyak orang. Petani gagal panen karena irigasi terkontaminasi limbah. Anak kecil menangis karena tak tahan menahan rasa gatal dikulitnya karena dimandikan oleh air sumur yang awalnya bersih tiba-tiba menjadi kotor dan bau. Sungguh tidak memiliki rasa empati dan tanggung jawab sosial tentunya.”
Pak Sobirin begitu bersemangat memberikan pelajaran tentang pentingnya rasa tanggung jawab sosial, dengan tujuan sebagai pembangun kesadaran para siswa baru untuk selalu menjaga kebersihan, khususnya di SMUN 1 Sriwidari. Hari itu sekitar satu jam lebih Pak Sobirin memberikan sambutannya, acara pagi itu pun kemudian dilanjutkan dengan diisi bagian Bimbingan Konseling oleh Pak Hamid yang menjelaskan kedisiplinan, peraturan dan penerangan untuk para siswa pada masanya akan melanjutkan ke perguruan tinggi serta Bagian Kesekretariatan yang menjelaskan tentang kurikulum.
Sekitar tiga jam lebih lamanya mereka memberikan sambutan. Matahari nampak hampir tepat diatas kepala. Acara sambutan dari pihak sekolah itupun kemudian usai, Pak Sobirin menutupnya dengan mengucapkan hamdallah. Lalu Pak Sobirin beserta Pak Hamid dan Bu Iffah, melangkah keluar ruangan gedung aula itu. Namun sesaat sebelum Pak Sobirin meninggalkan ruangan, Arman datang menghampiri dan menyalami Pak Sobirin, Pak Hamid dan lalu Bu Iffah sebagai tanda ucapan terimakasihnya.
“Terimakasih banyak Pak atas sambutan yang diberikannya” kata Arman pada Pak Sobirin.
“Sungguh luar biasa, mudah-mudahan saya bisa selalu mengaplikasikan rasa tanggung jawab sosial itu” tambah Arman.
“Yakinkanlah kamu bisa melakukannya, itu akan menghasilkan buah kebaikan” ucap Pak Sobirin sambil tersenyum.
Hanya kata itu yang terucap dari bibir Pak Sobirin, namun kata itulah yang membuat Arman sesaat terdiam, kata-kata itu masuk perlahan kedalam hatinya dan tak pernah terlupakan olehnya.
Sesaat setelah itu Arman baru mengucap terimakasih sambil menyalami Pak Hamid dan Bu Iffah.
Tak lama berselang Arman yang didampingi Erlan, Lutfi, Yudi dan Firman, masuk kedalam gedung. Sedang, teman-temannya yang lain yang juga sebagai panitia orientasi sebagian ada yang menunggu di luar aula, dan sebagian lagi ada yang masuk dan berdiri di belakang. Lalu Arman dengan menggunakan pengeras suara memerintahkan para peserta orientasi siswa baru itu untuk memasuki ruangan kelas yang telah ditentukan sebelumnya dengan didampingi oleh para pembimbing kelompoknya masing-masing untuk beristirahat, menyantap makan siang serta bersiap untuk melakukan shalat dzuhur berjamaah di mesjid sekolah. Para peserta pun bersemangat dan bergegas untuk masuk ke ruangan.
*****
TO BE CONTINUE
PART 1 B
Tidak ada komentar:
Posting Komentar