Adzan dzuhur terdengar berkumandang memecah keheningan dengan alunan indah, hamparan sawah hijau seraya terdiam mengagungkan Dzat Yang Maha Pencipta, Allah Azza Wa Jalla. Keindahan yang diberikan-Nya adalah anugerah, sejauh mata memandang terdapat bukit-bukit hijau, angin lembut khas pesawahan seraya memberikan kedamaian disertai riakkan air disungai kecil yang jernih memudarkan dahaga kepenatan. Subhanallah! Takkan ada yang mampu menggambarkan seluruh keindahan ciptaan-Nya.
Arman bergegas mengambil air wudhu di mesjid Al-Muttaqin yang merupakan mesjid sekolah, untuk melaksanakan shalat dzuhur. Arman maju melangkah kedepan untuk mendapatkan shaf pertama beserta keempat sahabat terdekatnya yaitu Erlan, Lutfi, Yudi dan Firman.
Iqamat dikumandangkan
Ustadz Jaelani yang merupakan guru agama disekolah SMUN 1 Sriwidari menjadi imam siang itu, Ustadz Jaelani memperhatikan shaf untuk diluruskan dan meminta para jamaah untuk mengisi shaf yang masih kosong. Tak lama takbiratul ihram menggema, para jamaah yang ada di mesjid itu pun bersama mengumandangkan takbir. Mengumandangkan kebesaran Allah. Lalu seluruh jamaah yang ada dalam mesjid itu pun larut dalam kedamaian, tak terlihat adanya perbedaan tahta, jabatan atau kedudukan, yang ada hanya keindahan yang bisa dinikmati dan dihayati oleh jamaah yang ada di dalamnya.
Usai melaksanakan shalat dzuhur dan berdzikir, Arman segera mengajak teman-temannya untuk kembali melanjutkan aktivitas di hari terakhir masa orientasi siswa baru itu.
“Ini hari terakhir masa orientasi ya..” Arman berkata kepada Erlan yang duduk disampingnya sambil mengikatkan tali sepatu warior kesukaanya.
“Iya, mudah-mudahan jadi bekal yang berharga bagi mereka” jawab Erlan sambil perlahan memegang pundak Arman.
Terlihat para jamaah satu per satu keluar dari mesjid, terdengar pula disudut-sudut mesjid lantunan salam untaian doa dan jalinan persaudaraan. Seketika Arman terdiam ketika melihat Rimbani keluar dari pintu mesjid untuk para wanita dengan membawa mukena yang sudah dilipat rapih dan juga didampingi beberapa temannya, kecantikannya sungguh membuat Arman terpesona. Arman hanya bisa terdiam dan menundukkan wajahnya sambil berkata dalam hatinya bahwa itu adalah salah satu keindahan dari Sang Maha Pencipta, subhanallah!
Arman mencoba menjaga pandangannya dan segera mengajak keempat sahabatnya untuk bergegas kembali menuju gedung aula yang masih kosong. Setibanya di aula itu Arman duduk dibangku podium, ia terdiam, tatapannya kosong.
“Kok melamun” tiba-tiba Lutfi mengagetkannya.
“Ah tidak, mungkin hanya sedikit lelah saja” jawab Arman
Jauh dalam lubuk hati, Arman sebenarnya tak tahu apa yang sedang ia rasakan.
Tak lama berselang gedung aula dengan dinding tembok sudah retak, cat terkelupas, serta dihiasi lukisan grafitty bergambar alas sepatu bercatkan tanah dan debu itu pun kembali dipadati oleh para peserta orientasi, mereka duduk rapih dikursi-kursi yang telah disediakan. Bersiap untuk mengikuti sesi kedua. Rimbani duduk dikursi paling depan mendengarkan sambutan dari para Almuni. Para intelektual, yang tersebar di perguruan-perguruan tinggi di kota-kota besar.
Siang itu, semua begitu antusias mendengarkan cerita pengalaman-pengalaman disertai dengan bumbu canda tawa dan juga diselingi hiburan-hiburan yang telah disiapkan oleh para alumni. Membuat suasana diruang aula menjadi sangat meriah.
“Kalian harus terus bersemangat mengejar ilmu walau hingga ke negeri Cina, bukankah banyak orang berkata seperti itu? kami disini memiliki tekad yang sama, tidak ingin berhenti sekolah hanya sampai SMU saja. Raih cita-cita dan mimpi besar kalian.” Sengit salah satu alumni yang sudah bekerja di Jepang selama dua tahun itu.
Arman mendengarkan sambil sesekali matanya tertuju pada Rimbani. Rimbani tak sadar bahwa Arman diam-diam memperhatikannya. Menatap lekat wajah Rimbani yang jelita saat sedang tersenyum bahagia, dan tatapan halus yang selalu ia tundukan semakin memunculkan perasaan cinta didalam hati Arman. Perasaan indah itu sejenak membuat Arman tak konsentrasi.
“Hei.. Arman.. Arman..” Bisik Lutfi yang duduk disampingnya.
Arman sedikit terkejut, “ada apa?” ia bertanya dengan nada pelan.
“Sambutan dari alumni sudah hampir selesai, cepat kamu bersiap lagi, jangan melamun saja”.
Arman tak menyadari sesi demi sesi begitu saja berlalu, dalam hatinya berkata ternyata berada dalam bayang-bayang indah waktu dirasanya begitu singkat padahal banyak yang terpakai, ia sedikit menggelengkan kepala dan segera beristigfar. Seluruh acara hari itupun akhirnya berakhir. Setelah para alumni SMUN 1 Sriwidari selesai memberikan sambutannya. Arman kembali bergegas mengambil alih, dengan sedikit tersenyum pada para peserta siswa baru, ia mengambil pengeras suara.
“Bagaimana perasaan kalian di hari terakhir orientasi siswa baru ini?” Arman bertanya pada seluruh siswa baru yang ada diruangan itu.
“Mudah-mudahan senang dan bisa memberikan bekal yang berharga untuk kalian ketika menimba ilmu di sekolah ini” sambung Arman.
“Dikarenakan ini merupakan hari terakhir, apakah kalian sudah membuat surat masukan, kritik atau apapun itu selama mengikuti masa orientasi untuk kami, para panitia?” kembali Arman bertanya.
“Sudah!” jawab seluruh siswa baru itu.
Surat itu dinamakan surat untuk kakak terfavorit, surat yang dibuat merupakan sebuah tradisi pada orientasi siswa baru di SMUN 1 Sriwidari. Isi suratnya beragam, berupa tanda ungkapan terimakasih, ungkapan rasa kekesalan karena merasa diperlakukan tidak adil, dan ada juga ungkapan kekaguman.
Para siswa baru mengumpulkan surat-surat itu pada masing-masing pembimbing kelompoknya. Hari sudah menjelang sore, Arman diminta mewakili Pak Sobirin, untuk menutup acara orientasi siswa baru SMUN 1 Sriwidari. Sebelumnya, ia menyampaikan permohonan maaf terlebih dulu, apabila ada yang kurang berkenan selama acara orientasi berlangsung. lalu ia meresmikan penutupan acara tersebut. Para siswa baru bertepuk tangan. Saling bersalam-salaman, dan berpeluk erat dimana-mana. Arman beserta panitia orientasi yang lainnya turut menyalami para siswa baru sebagai tanda ucapan selamat bergabung untuk menimba ilmu. Arman beserta teman-teman panitia yang lainnya menghampiri satu per satu para siswa baru untuk memberikan ucapan selamat, namun tiba-tiba jantung Arman berdetak kencang memompa seluruh aliran darah yang mengalir ketubuhnya, ketika giliran Arman menyalami salah satu wanita yang membuatnya terpesona, dialah Rimbani. Mulutnya bergetar ketika berucap.
“Selamat ya.”
“Terimakasih banyak.” ucap Rimbani sambil tertunduk menjaga pandangannya. Arman pun tertunduk malu dan bertanya didalam hatinya, siapa nama perempuan ini.
Setelah selesai menyalami seluruh siswa baru itu Arman berjalan keluar menuju lorong-lorong kelas untuk pergi ke ruang khusus kepanitiaan, diikuti dua temannya yaitu Erlan dan Lutfi. Setibanya diruangan panitia, Arman mendekati laptop butut miliknya, yang ternyata masih tergeletak di atas meja. Kemudian Arman pun memasukkan laptop itu ke dalam tas.
“Hai, Merpati Putih.” tiba-tiba Erlan datang, berkata pada Arman dengan panggilan tak biasa.
“Merpati Putih?” tanya Arman sambil keheranan mendengar ungkapan Erlan.
“Ini ada surat untukmu dan banyak sekali.”
“Tapi sepertinya yang paling spesial yang ini.” tambah Erlan sambil memberikan surat beramplop biru muda bergambarkan seekor merpati putih sedang terbang itu, kepada Arman.
“Oh.. jadi gara-gara ini, sebab kenapa kamu memanggilku seperti itu?” sahut Arman kepada sahabatnya.
“Tidak juga!” jawab Erlan dan Lutfi sambil tertawa.
“Lalu kenapa?”
“Maaf ya karena amplopnya sudah terbuka, jadi tadi kami berdua membaca dulu isi surat itu, abis.. penasaran.” ungkap Erlan dan Lutfi tertawa-tawa.
“Apa..!! aaghh, Iseng saja kalian ini.” Arman geram dengan kelakuan dua sahabatnya itu.
“Awas ya kalian!!.” ujar Arman sambil berlari mencoba menangkap Erlan dan Lutfi yang juga berlari keluar ruangan menuju taman sekolah.
Arman mengenal Erlan dan Lutfi memang sahabat yang paling suka jahil dan suka iseng tetapi juga humoris. Erlan yang sedikit tambun dan Lutfi si kurus. Mereka berdua sering membuat jengkel, tapi ide-nya tidak sedikit yang cemerlang. Dari segi prestasi di sekolah, mereka berdua tergolong bagus dan merupakan siswa yang pintar.
Ketika sampai di taman sekolah, Arman berhenti mengejarnya sambil menghela nafas panjang dan tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya itu. Erlan dan Lutfi dari kejauhan menggoda Arman supaya terus mengejarnya. Arman tak memperdulikannya, kemudian ia memilih duduk dibangku taman sekolah yang berada tepat dibawah sebuah pohon rindang, sesekali ia menghela nafas panjang. Ia penasaran dengan isi surat beramplop warna biru muda yang ada digenggaman tangannya. Arman segera membuka amplop itu untuk ia baca. Arman tertegun, jantungnya tiba-tiba kembali menambah kecepatan detaknya, untuk kedua kali hari itu, aura tubuh seolah membuatnya melayang, dan semilir angin disore itu seolah memberikan kesejukan dihati. Ketika mengetahui isi dalam amplop biru muda itu ternyata sebuah lantunan syair indah yang hanya bisa ia rasakan.
.......
Sesaat terdiam menatap birunya langit
Aku melihat seekor merpati putih terbang ke ujung langit
Menembus cakrawala, membiaskan warna sejuta indah
Aku terpesona dengan merpati putih yang terbang ke ujung langit
Mungkin menghilang di ujung kehidupan
Arman bertanya-tanya dalam hatinya, siapa yang mengirimkan surat berisikan syair itu untuknya. Syair yang menggambarkan bahwa seolah-olah ia adalah seekor merpati putih itu, membiaskan warna keindahannya dan membuat pelantun syair itu terpesona. Dia heran karena diantara banyaknya surat yang dikirimkan untuknya, hanya surat itu saja yang tidak tercantum nama pengirimnya.
Tiba-tiba Erlan dan Lutfi datang menghampiri Arman.
“Hei, bagaimana merpati putih, apakah kau sudah membacanya?” kata Erlan sambil menggoda Arman.
“Siapa yang mengirimkan surat ini untukku?” Arman bertanya sambil menatap kedua sahabatnya itu.
“Aku juga tidak tahu, soalnya tadi Yudi yang menitipkan surat itu pada ku. Kita tanyakan saja padanya”. ujar Erlan.
“Dimana Yudi sekarang?”
“Mungkin dia berada di ruang kepanitiaan”
Akhirnya mereka bertiga pun langsung mengarah kembali menuju ruangan khusus panitia.
*****
TO BE CONTINUE
PART 1 C
Tidak ada komentar:
Posting Komentar