Home

Jumat, 13 Mei 2011

BEYAZ GUVERCIN (Sang Merpati Putih Penembus Langit) - Part 1 C

Di ruangan kepanitiaan, Yudi si pemilik sifat lugu dan pemalu, sedang sibuk merapikan barang-barang dimeja dan memasukkan beberapa buku kedalam tas. Disebelahnya, Firman seorang kutu buku, melek teknologi, dengan kaca mata bulat dibatang hidungnya, terlihat asik didepan sebuah komputer, menggunakan fasilitas internet gratis yang sudah disediakan oleh sekolah. Firman sibuk membalas kiriman email sahabatnya dari Surabaya.
“Belum pulang?” tanya Yudi pada Firman
“Belum.. mungkin sebentar lagi, balas email dari teman ku dulu” jawab Firman sambil mengetik di keyboard komputer.
“Besok tanggal merah, kamu jadi ketemu paman mu yang kerja di pelabuhan itu?” kembali Yudi bertanya kepada Firman.
“Iya, jadi Yud.. aku akan pergi setelah shalat jumat, ada titipan ibu yang harus diberikan pada pamanku”. ujar Firman
Yudi mengangguk-nganggukkan kepalanya.
Disekeliling mereka berdua tampak terlihat beberapa orang. Ada yang sibuk makan, ngobrol, dan ada juga yang sedang membaca surat-surat yang diterimanya. Sambil terdengar sesekali suara tawa riang di luar ruangan itu.
Setelah selesai merapikan dan memasukkan barang bawaannya, Yudi langsung duduk melepas lelah. Tak lama berselang, Arman, Erlan dan Lutfi tiba diruangan itu.
“Syukur kalian belum pulang” kata Arman sambil menghampiri Yudi.
“Yud, kamu tahu, siapa yang mengirimkan surat dengan amplop berwarna biru muda ini untukku?” tanya Arman pada Yudi.
Yudi tersenyum kecil sambil berkata, “surat itu kiriman dari siswa yang kebetulan, akulah pembimbing kelompoknya kawan. Dia wanita yang mengacungkan tangannya menjawab pertanyaanmu tadi pagi”.
“Namanya Rimbani.., Rimbani Aldina”.
“Sepertinya wanita itu menyukaimu kawan” tambah Yudi
“Ah.. kamu bisa saja Yud” ucap Arman, wajahnya tersenyum. Terbesit rasa bahagia bercampur rasa malu dihatinya.
“Sepertinya hidung Merpati Putih itu akan melayang-layang, layaaanng... layaanng.... yaaaanngg…. terbang melayang”. Erlan dan Lutfi kembali menggoda-goda Arman.
Firman tertawa sambil berpura-pura menatap layar komputer.
Arman tak kuasa, hanya bisa tersenyum saja menanggapi perlakuan sahabat-sahabatnya itu, membuat mukanya memerah. Tawa lebar diraut muka Erlan, Yudi, Lutfi dan Firman, menambah rasa bahagia yang masuk kedalam hatinya. Sahabat yang selalu ada menemaninya, sahabat yang ia kenal ketika mulai masuk SMU. Arman terdiam tanpa mampu untuk berkata lagi mencoba menikmati rasa kebahagiaan itu. Ia tak menyangka, ternyata surat beramplop biru itu kiriman dari wanita yang membuat ia begitu terpana.
Arman melihat arlojinya, waktu menunjukan pukul empat sore, segera Arman menghilangkan sejenak bayangan-bayangan indah yang bersemayam dipikirannya. Dan mengajak sahabat-sahabatnya itu untuk melakukan shalat ashar. Arman menjadi imam sore itu.
Hari mulai petang, para petani diladang sawah yang berada di belakang sekolah terlihat berjalan untuk pulang, pakaiannya lusuh dikotori lumpur, sebuah cangkul bertengger dipundaknya. Padi yang baru mulai menguning, ladang kol yang mulai mekar dan matahari sore yang bersembunyi dibalik awan. Mengiringi perjalanan Arman, Erlan, Yudi, Lutfi dan Firman untuk pulang.
Arman berjalan menghampiri sepeda motor miliknya, Firman dan Lutfi pergi ke tepi jalan untuk menunggu angkutan umum, sedangkan Erlan menggunakan motor miliknya membawa Yudi karena arah rumahnya yang bersamaan.
“Sampai ketemu lagi ya.. hati-hati dijalan dan terimakasih atas bantuan kalian jadi panitia orientasi tahun ini” teriak Arman sambil mengangkat tangan kanannya.
“Iya sama-sama” teriak Erlan, Yudi, Lutfi dan Firman bersamaan.
Firman dan Lutfi pulang bersama menggunakan angkutan umum jurusan Sriwidari menuju Kiara. Erlan dan Yudi belok kanan keluar pintu sekolah menuju Panglayungan. Sedangkan, Arman pergi belok kiri setelah keluar dari gerbang sekolah menuju kearah rumahnya di Sriwidari, bisa ditempuh hanya lima belas menit dari SMUN 1 Sriwidari.
Arman mengendarai motornya dengan tenang, sesekali terlintas bayangan senyum Rimbani dikepalanya. Dalam diri Arman muncul rasa rindu pada sosok Rimbani. Sore itu jalanan terlihat sangat lenggang hanya sesekali angkutan umum melintas dijalan itu. Arman belok ke arah kiri dipertigaan Sriwidari, tak jauh terlihat rumah sederhana bercat warna hijau muda dihiasi pagar besi yang sudah sedikit berkarat, yang tak lain adalah rumahnya.
Tak lama Arman tiba dirumahnya, ia mematikan motornya dan dengan segera menyimpannya disebuah garasi di belakang rumah. Arman kemudian berjalan menuju beranda tengah rumah, disana Bu Nurmala dan Pak Mahfuz – Orang tua dari Arman – sedang duduk meletakkan punggungnya di kursi, Bu Nurmala serius membaca sebuah majalah dan Pak Mahfuz asik menyeruput segelas teh manis hangat, dengan bergegas Arman mencium tangan Ibu dan Ayahnya disertai dengan mengucapkan salam. Dihalaman terlihat kedua adik perempuan Arman, Mutiar - yang masih duduk dikelas dua SD -  dan Alya – yang baru masuk SMP  - sedang asik bermain petak umpet.
“Kamu sudah makan Nak?” tanya ibunya
Alhamdulillah, Sudah Bu. ”
“Makan dimana?”
“Tadi di kantin sekolah.”
“Oo..ya, ibu buatkan puding coklat kesukaan kamu, nanti kamu makan ya”
“Wah, Asiik.. terimakasih Bu, pasti nanti Arman makan”
Kebahagiaan Arman hari itu bertambah ketika berada ditengah-tengah keluarga. Rasa lelah yang belum punah, tak mempengaruhinya untuk sejenak bersama dengan kedua orang tuanya. Arman duduk dikursi sebelah Ayahnya, menghadap kearah Bu Nurmala, ibunya.
“Arman, Bapak mau minta tolong. Bapak, malam ini ada jadwal piket di pos ronda, sedangkan besok pagi, Bapak harus pergi ke Jakarta mengantarkan pesanan cengkeh. Nah, untuk malam ini tolong kamu gantikan. Bapak merasa tidak enak kalau tidak ada yang hadir untuk menggantikan. Besok tanggal merah jadi kamu gak masuk sekolah kan.”
“Baik, Pak. Nanti Arman gantikan.” Arman memenuhi permintaan Ayahnya itu.
Ayah Arman, Pak Mahfuz yang ramah itu, dikenal para tetangganya sebagai seorang penjual hasil perkebunan cengkeh. Dalam menjalankan usaha perkebunan tersebut Pak Mahfuz biasanya menyewa lahan kosong untuk dijadikan sebuah kebun cengkeh. Selain itu, Pak Mahfuz, juga dikenal baik oleh tetangganya sebagai wirausahawan, ia membuka sebuah toko yang menyediakan kebutuhan-kebutuhan untuk pertanian dan perkebunan.
“Pak.. Bu.., Arman mau istirahat dulu ya, Arman mau mandi dulu, takut keburu maghrib.” tambah Arman meminta ijin kepada kedua orang tuanya. Pak Mahfuz dan Bu Nurmala menganggukkan kepala.
Arman lalu berjalan masuk untuk menuju ruang kamarnya, menyimpan tas yang berada dipunggungnya kemudian sejenak merebahkan badan, meluruskan tulang-tulang punggung yang terasa bengkok dan kaku karena kelelahan, diatas kasur empuk yang dilapisi seprai bergambar klub sepak bola favoritnya. “Alhamdulillah”. Ucapnya dalam hati sambil menatap langit-langit kamar. Tak lama setelah itu ia bergegas untuk pergi mandi.



Merpati putih itu telah terlihat.
Membawa seberkas cahaya, penerang malam
Merpati putih itu telah muncul.
Membawa kehangatan dikebekuan hati.
Merpati putih itu ada
Membawa kesejukan air jernih di taman hati.
Merpati putih itu nyata.
Bersama segenggam cahaya bulan, menerangi hati.

*****

TO BE CONTINUE
PART 2 A

Tidak ada komentar:

Posting Komentar