2
Rimbani Aldina
Bulan sabit memancarkan sinar menerangi bumi. Ribuan cahaya bintang menghiasi luasnya langit malam itu, dibelakang rumah bercat putih yang nampak sedikit pudar dan terkena debu, terlihat beberapa api obor menyala berjejer beriringan dipinggir-pinggir sungai. Sesekali cahaya lampu senter menyala, mengarah kesela-sela bebatuan, lubang-lubang kecil dan kedalam air sungai yang cukup deras. Tatapan mata tajam itu terus mengintai, tangannya menggenggam sebuah tombak kecil, sarung bercorak kotak-kotak melilit dipinggangnya dan sebuah keramba kecil bertengger dipunggungnya.
Tak sia-sia perburuan malam itu akhirnya membuahkan hasil. Salah seorang dari mereka berteriak kegirangan ketika tombaknya berhasil mengenai sasaran, seekor ikan mujair ukuran sedang berhasil ia taklukkan. Tombak kecilnya tepat mengenai tengah-tengah tubuh ikan mujair itu. Tanpa pikir panjang ikan hasil tangkapannya pun langsung ia masukkan kedalam sebuah keramba kecil yang ada dipunggungnya.
Suara katak-katak sawah terdengar beriringan bagai bernyanyi bak paduan suara dipentas seni. Kelelawar-kelelawar beterbangan kesana-kemari mencari sesuatu yang menarik untuk dijadikan hidangan santap malam.
“Kamu sedang apa, Rimbani?” Bu Juzailah bertanya kepada Rimbani, yang saat itu duduk dikursi ruang tamu sedang membaca sebuah buku karangan Khalil Gibran.
“Rimbani sedang baca buku, Ummi.” Jawab Rimbani
“Rimbani, besok kamu jangan lupa bawa baju seragam SMU untuk nanti hari senin, kata penjahitnya sudah selesai.” Ujar Bu Juzailah, sambil berjalan mengarah ke ruang tamu.
“Iya Ummi, besok Rimbani bawa.”
“Sekalian Rimbani mau ngasih logo SMUN 1 Sriwidari, supaya nanti bisa sekalian dipasang dibaju seragamnya.” Tambah Rimbani dengan logat sunda yang khas.
“Oo ya, besok kamu juga mampir dulu ke rumah Bu Salamah, ibu minta tolong bawakan kue lapis, untuk pengajian ibu-ibu sore harinya. Kamu cepat tidur, istirahat biar besok pagi gak kesiangan.”
“Baik Ummi, sebentar lagi.” Jawab Rimbani sambil tersenyum menatap wajah sang ibu yang sudah mulai terlihat uban dirambutnya.
Bu Juzailah juga menatap anaknya itu dengan penuh kasih dan ketulusan, terlukis rasa bangga diwajah Bu Juzailah. Rimbani adalah Sosok wanita yang shalihah, penyayang kedua orang tuanya, pintar dan pandai merangkai kata-kata menjadi sebuah untaian mutiara, tak pelak ia pernah mendapatkan penghargaan sebagai juara pertama lomba menciptakan puisi tingkat SMP se-Jawa Barat, penghargaan dari beberapa majalah dalam lomba membuat cerpen islami, dan tak hanya itu Rimbani selalu menjadi juara kelas sejak ia SD sampai SMP. Hasilnya ia pun berhasil mendapat bea siswa dari pemerintah untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMU hingga ia lulus.
Bu Juzailah beserta suaminya, Pak Harun. Hanya ditemani Rimbani, anak bungsunya. Karena kedua anaknya yang lain sudah menikah, kakak perempuan Rimbani bernama Rini, ia dibawa suaminya ke Solo, sedangkan kakak lelakinya bernama Rizal yang kini tinggal di Jakarta bersama istrinya, ia bekerja sebagai staf maskapai penerbangan GI di Bandara Soekarno-Hatta. Jadi praktis Rimbani hanya tinggal bertiga dirumah itu bersama kedua orang tuanya. Jarak usia antara kakak keduanya dengan Rimbani terpaut sangat jauh yaitu tiga belas tahun. Anak-anak dari keluarga Bu Juzailah dan Pak Harun ini semuanya tergolong pintar. Hanya saja yang paling menonjol adalah Rimbani.
Bu Juzailah yang seorang paruh baya, bekerja sebagai guru di sebuah SMP Negeri Bojong yang tak jauh dengan rumahnya, Bojong sebuah pedesaan yang merupakan desa santri. Begitu masyarakat setempat menyebutnya. Karena di Bojong itulah berpusat pesantren terkenal yang bernama Darrul Ihsan.
“Tok.. tok.. tok..” Tiba-tiba terdengar ada seseorang yang mengetuk pintu.
“Assalamualaikum.” Suaranya terdengar halus.
“Waalaikumsalam.” Jawab Rimbani dan Bu Juzailah hampir bersamaan.
“Siapa itu Nak?” Tanya Bu Juzailah
“Tidak tahu Mi, mendengar dari suaranya, sepertinya itu Abah.”
Rimbani beranjak dari kursi dan menyimpan buku diatas meja, lalu segera membukakan pintu.
“Abah!.” Rimbani segera mencium tangan Abahnya, Pak Harun.
“Darimana bah? Kok baru pulang?” Tanya Rimbani,
“Tadi setelah shalat isya, Abah mampir dulu ke rumah Ustadz Kamil, beliau sedang sakit.” Jawab Pak Harun.
“Inna lillah!”
“Sakit apa bah?” Tambah Bu Juzailah sambil menyambut Pak Harun.
“Kata dokter yang memeriksanya, Ustadz Kamil sakit typhus, mungkin karena kelelahan setelah beberapa bulan ini ia harus pulang pergi mengurusi anak perempuannya yang akan kuliah di Bandung.”
“Ooh, Si Eva itu ya?”
“Iya Ummi.”
“Memang Si Eva itu mau kuliah dimana bah.”
“Katanya, dia sudah lulus untuk masuk kuliah di Institut Manajemen Telkom.”
“Alhamdulillah, Abah mau minum apa?”
“Tidak usah Mi, Abah masih kenyang.” Ujar Pak Harun sambil melangkah tenang menuju mushola rumah.
“Abah shalat sunnah hajat dulu ya Mi.”
“Iya Bah.”
Bu Juzailah membalas, lalu melangkah menuju dapur, untuk menyimpan beberapa piring dan gelas kotor yang ada di meja untuk disimpan di westafel.
Rimbani menyimpan buku Khalil Gibran yang baru ia baca di rak buku yang berada di ruang tengah. Ia melangkah ke lantai atas dan masuk ke kamarnya. Di kamar ia tiba-tiba merasakan lembut bayangan wajah Arman masuk kedalam pikirannya. Seketika itupun Rimbani langsung mengucap istighfar memohon ampun kepada Allah, dan memohon kebaikan untuk masa depannya kelak. Diraut wajahnya ada segenggam rasa rindu pada Arman yang tidak bisa ia sembunyikan. Ia memohon jalan yang terbaik.
Yaa Rabb ampunilah dosa-dosa ku, berikanlah jalan lurus-Mu Yaa Rabb, berikanlah yang terbaik untuk kehidupanku, jadikan cintaku ini tak memudarkan cintaku pada-Mu Yaa Rabb, karuniakanlah aku pendamping hidup pilihan terbaik-Mu. Amin.
Rimbani lalu berdiri di depan jendela kamarnya yang sedikit ia buka. Ia memandangi langit malam. Menikmati cahaya bulan. Dan merasakan cinta yang menggelora dihatinya. Ia menghela nafas panjang. Angin malam terasa dingin masuk kedalam kamarnya. Lalu ia kembali menutup jendela. Angin malam yang mengalir dingin menyapa pepohonan yang bergoyang-goyang.
Malam larut dalam keheningan, setelah selesai melaksanakan shalat sunnah hajat dan berdzikir. Pak Harun memeriksa setiap kunci pintu rumahnya. Ia kemudian memeriksa Rimbani ke kamarnya di lantai atas yang ternyata sudah tertidur pulas. Ia menutup kembali rapat-rapat pintu kamar Rimbani. Dan bergerak menuju ruang kamarnya, untuk menemani istri yang sangat dicintainya Bu Juzailah yang juga sudah terlelap tidur dalam lelahnya. Pak Harun pun langsung berbaring disampingnya, sambil berdoa dan mengucapkan asma-asma Allah.
Pak Harun, yang sudah terlihat mulai renta merupakan seorang pensiunan polisi. Semasa menjabat sebagai seorang polisi, Pak Harun adalah sosok polisi yang taat kepada Allah, tak jarang ketika bertugas dimalam hari Pak Harun sering menyempatkan diri untuk shalat tahajjud dan membaca beberapa ayat suci Al Quran.
Mereka semua pun larut dalam kedamaian, bersama mimpi-mimpi indah. Hembusan angin malam yang masuk kerumah itu melalui celah-celah ventilasi udara, terasa bagai membelai-belai memberikan kesejukan kasih sayang dan kelembutan.
Aliran air sungai kecil yang mengalir dibelakang rumah itu ikut menikmati heningnya malam, dari kejauhan obor-obor api pemburu ikan di sungai itu terlihat masih menyala dan terus berjalan mengikuti arus sungai.
“Aaaaghhkk.. Tolllooooonng!” Tiba-tiba salah satu dari pemburu itu berteriak ketakutan.
Serentak teman-temannya yang lain ikut kaget dibuatnya.
“Kenapa Kang, ada apa?” Tanya salah seorang temannya.
Langsung saja semua temannya itu tertawa terbahak-bahak ketika mendengarnya.
To Be Continue
Part 2 (B)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar