Arman sudah siap dengan mengenakan jaket kulit berwarna coklat bermerek cardigan. Selepas keluar dari rumahnya langsung ia mengajak kakeknya, Pak Badri, di sebuah rumah yang bersebelahan untuk pergi ke pos ronda. Malam itu Arman menggantikan jadwal ronda ayahnya, Pa Mahfuz, yang tidak bisa datang karena esok pagi akan berangkat ke Jakarta mengantarkan pesanan hasil panen perkebunan cengkeh ke Pasar Kramat Jati. Setiba di pos ronda ternyata Pak Ujang, Pak Rudi dan juga Pak Rahmat sudah menunggu di pos ronda. Pak Rahmat asik menghisap sebatang rokok dengan menggenggam sebuah senter di tangan kirinya. Pak Rudi dan Pak Ujang sibuk memainkan bidak-bidak dipapan catur. Dengan sesekali melantunkan candaan-candaan.
“Ayahmu mana Man?” Tanya Pak Rahmat kepada Arman
“Ia tidak bisa jaga ronda malam ini, ia besok pagi mau pergi ke Jakarta, jadi malam ini aku yang menggantikannya.” Jawab Arman sambil naik ke atas pos ronda dan duduk bersila di sebelah Pak Rudi.
“Ke Jakarta? Memangnya ada keperluan apa?”
“Bapak mau mengantarkan pesanan cengkeh.” Jawab Arman.
“Wah, asik nih kelihatannya, ada yang sudah menang?” Tanya Arman kepada Pak Rudi dan Pak Ujang yang terlihat asik bermain catur.
“Belum, baru saja kami mulai, besok ayahmu berangkat sama siapa?” Pak Rudi balik melotarkan pertanyaan.
“Besok berangkatnya sama Kang Ade dan Si Ruslan, menggunakan truk.”
“Cengkeh-cengkehnya sudah siap diangkut.”
“Iya sudah, besok pagi mereka sudah tinggal langsung berangkat ke Jakarta.”
“Kang Somad dan Kang Rosid kemana ya, kok belum nongol.” Tiba-tiba kakek Arman memotong.
“Tadi mereka berdua, pergi dulu kerumah Kang Rosid, untuk mengambil peralatan buat nanti kita ngaliweut[1].” Ucap Pak Rahmat.
“Ngaliweut Pak Rahmat?” Arman terlihat girang.
“Iya, kita sudah biasa jaga ronda sambil ngaliweut, selain untuk menjaga keamanan kampung, perut kita juga bisa terisi penuh. Biar tidak masuk angin. Betul tidak Pak Rudi.”
“Betul itu.” Jawab Pak Rudi, sambil tertawa terbahak.
“Beras dan lauk pauknya juga sudah ada, berasnya tadi saya yang bawa, terus kalau lauknya, Pak Rudi sudah menyiapkan, ia bawa empat ekor ikan mas hasil memancing, besar-besar lagi.” Tambah Pak Rahmat.
“Alhamdulillah”
“Nah, itu mereka”
Kang Somad dan Kang Rosid pun datang membawa kastrol[2] yang berisi beberapa macam bumbu-bumbu masak yang dibungkus oleh kantong kresek dan sepasang alat untuk membuat sambal. Di Sriwidari tradisi ngaliweut sambil piket ronda sudah biasa dilakukan.
“Ayo kita siapkan perapiannya. Biar bisa cepat makan.” Kata Pak Rahmat sambil tertawa.
Arman segera mencari sesuatu yang bisa dibakar, Ia mencari ranting-ranting kering, kayu, atau dedaunan kering yang ada disekitar pos ronda, bersama Pak Rahmat. Kakek Arman membuat tungku perapian dari batu bata yang sudah tidak digunakan. Kang Somad, segera membersihkan beras untuk dibuat nasi liwet. Dengan resep rahasia racikannya sendiri, beras berisi air itu ia campuri garam, daun salam, daun serai dan sedikit minyak goreng. Sedang Kang Rosid, membersihkan isi bagian perut ikan mas untuk siap dibakar.
Malam sudah sangat larut. Kakek Arman terlihat membolak-balikan ikan mas diatas bara api. Wanginya sungguh sangat menggugah selera. Disebelahnya, Kang Somad sibuk sekali menanak nasi liwet, kumisnya yang tebal bagaikan ulat bulu merayap karena mulutnya terus-menerus meniup-niup perapiannya supaya tidak padam. Pak Rudi sesekali menalu kentongan yang ada di pos ronda.
“Teeenng.. teeng.. teeng..” Terdengar dari kejauhan Pak Ujang, Pak Rahmat, dan Kang Rosid memukul tiang-tiang telpon menggunakan sebilah besi, tanda sedang melakukan patroli.
Arman menghampiri Kakeknya, bermaksud untuk membantunya.
“Sudah matang belum Kek?”
“Belum, mungkin sebentar lagi. Bagaimana sekolah kamu? Kamu kan sekarang sudah kelas tiga, rencananya kamu mau melanjutkan kuliah dimana nanti?” Kakeknya bertanya.
“Alhamdulillah lancar Kek, tapi saat ini belum tahu nanti akan melanjutkan kuliah dimana. Arman mau fokus dulu untuk bisa lulus SMU dengan nilai terbaik. Mudah-mudahan ada rezekinya dan dimudahkan oleh Allah.”
“Amin Yaa Rabb, Kakek ingin kamu nanti jadi seorang sarjana. Kalau Kakek masih diberi umur mudah-mudahan Kakek bisa melihatmu ketika di pelaminan. Kakek akan bahagia kalau bisa melihat kamu saat di pelaminan nanti. Yakinlah kamu bisa melakukan sesuatu, untuk mendapatkan kebahagianmu sendiri.”
“Amin, mudah-mudahan. Insya Allah.” Jawab Arman sambil tersenyum dan mengingat ucapan Kakeknya, Pak Badri.
“O iya, Kakek mau minta tolong. Kira-kira kamu mau gak besok antarkan Kakek ke pesantren Darrul Ihsan di desa Bojong, mungkin berangkatnya setelah shalat jumat. Kakek mau bertemu dengan Kiai Abdullah. Kebetulan Kakek ada perlu, Kiai Abdullah mengundang Kakek untuk datang di acara khitanan cucunya.”
“O iya Kek, boleh. Besok setelah shalat jumat ingatkan Arman saja. Waahh.. Sepertinya ikannya sudah matang kek, wangi sekali.”
“O iya betul.”
Asap mengepul di perapian kecil. Ikan yang dimasak Arman dan Kakeknya semua sudah matang. Tiba pada saatnya setelah Pak Ujang, Pak Rahmat dan Kang Rosid selesai berpatroli. Masakan nasi liwet dengan ikan mas bakar dilengkapi dengan sambal, sudah siap dihidangkan di atas beberapa lembar daun pisang yang sudah di bersihkan. Mereka semua langsung menyantapnya bersama-sama, dan larut dalam kenikmatan. Wangi ikan mas bakar, menggairahkan nafsu makan Arman. Ia terlihat sangat lahap. Dera lapar menambah kenikmatan rasa ikan mas bakar yang dilumuri oleh kecap pedas. Sambil makan sesekali Pak Ujang membuat candaan-candaan hingga membuat semuanya tertawa dan menambah semarak malam itu.
Setengah jam sebelum subuh, mereka semua menghentikan piket malam di pos ronda. Arman dan Kakeknya tidak langsung pulang kerumah. Mereka berdua pergi ke mesjid yang ada dibelakang sebuah madrasah, tak jauh dari tempat pos ronda hanya sekitar dua ratus meter, untuk menunggu melaksanakan shalat subuh berjamaah. Arman langsung mengambil air wudhu. Langit di pagi hari selalu mempesona. Air wudhu yang membasahi wajah Arman terasa begitu segar, menitik di dahi dan menyentuh kedua pipinya. Ia menghirup dalam-dalam udara pagi, aromanya begitu menenangkan jiwanya.
Arman masuk kedalam mesjid lalu shalat sunnah dua rakaat. Setelah itu ia berulang kali membaca doa Nabi Yunus hingga adzan dikumandangkan. Shalat subuh didirikan, Arman tegak dalam shalatnya larut dalam kekhusyuan bersama dengan jamaah yang lainnya.
To Be Continue
Part 3 A
Tidak ada komentar:
Posting Komentar