3
Pertemuan Tak Terduga
Arman memacu sepeda motornya, laju kecepatannya sekitar enam puluh kilometer per jam, dengan rasa kantuk yang masih terasa menyelimuti. Arman terus berhati-hati mengendarai sepeda motornya. Mengantarkan Pak Badri, Kakeknya, ke pesantren Darrul Ihsan di desa Bojong.
Panas sinar matahari terasa sangat menyengat dikulit. Rasa dahaga mulai terasa mengeringkan rongga-rongga tenggorokan. Ia sedikit menambah laju kecepatan sepeda motornya agar segera sampai ke pesantren. Jam dua siang, Arman dan Kakeknya tiba di Pesantren Darrul Ihsan. Masyarakat yang hendak menghadiri acara khitanan telah banyak yang berdatangan.
Kiai Abdullah terlihat berjalan dari mesjid menuju rumah. Kiai itu sedang berbincang dengan salah seorang anggota keluarganya. Lalu pandangannya mengitar ke arah kerumunan orang-orang yang hadir. Mata Kiai itu kemudian tertuju pada Arman dan Kakeknya. Kiai Abdullah tersenyum. Lalu berjalan mengarah pada mereka.
“Akhirnya kamu datang memenuhi undanganku.” Kiai Abdullah berucap pada Pak Badri.
“Undangan dari sahabat lama, mana mungkin aku mengabaikannya.” Jawab Pak Badri sambil tersenyum membalas.
“Kamu datang dengan siapa?”
“Ini saya datang dengan cucuku.”
“O Arman? yang dulu waktu kecil sering ikut kita berburu belalang di sawah untuk pakan burung. Masya Allah kamu sudah bujang sekarang. Lama sekali abah tidak bertemu denganmu.” Kiai Abdullah menatap Arman sambil mengelus-ngelus pundaknya.
Kiai Abdullah dan Pak Badri adalah sahabat lama. Mereka berteman ketika menjadi santri di pesantren itu. Kiai Abdullah adalah anak dari pendiri pesantren dan menjadi penerus pondok pesantren Darrul Ihsan setelah ayahnya meninggal.
“Mari silahkan, acara khitanannya sebentar lagi dimulai.”
“Iya baik.”
Kiai Abdullah dan Pak Badri berjalan bersamaan, Arman mengikutinya dari belakang. Sebelum sampai ke beranda rumah Kiai Abdullah, Arman berjalan kesebelah Kakeknya dan berbisik bahwa ia akan pergi mencari sebuah warung untuk membeli minuman. Karena, saat itu ia tak kuasa menahan dahaga.
“Kek, Arman mau mencari minuman dulu ya, nanti kalo sudah selesai, Arman pulang lagi kesini.” Mulutnya berbisik ketelinga Kakeknya.
“Ya sudah, jangan lama-lama, nanti cepat balik kesini lagi.” Ujar Kakeknya dengan nada pelan.
Arman segera pergi meninggalkan Kakek dan Kiai Abdullah untuk mencari warung yang menjual minuman disekitar pondok pesantren. Arman berjalan menuju gerbang keluar pesantren. Lalu tak lama ia melihat warung kelontongan kecil tepat berada diseberang jalan. Ia pun berjalan menyeberangi jalan untuk menuju warung tersebut. Setibanya ia membeli sebotol soft drink dingin, dan segera meminumnya untuk menghilangkan rasa dahaga yang mendera. Begitu segar membasahi tenggorokannya. Ia pun sejenak duduk disebuah kursi yang ada di warung kelontongan itu hanya untuk sekedar ikut beristirahat dan berteduh.
Tatapan Arman mengarah ke jalan sambil sesekali memperhatikan orang-orang yang bergerak masuk ke pondok pesantren. Matanya sedikit kemerahan karena rasa kantuk yang masih mendera. Angin yang berhembus lembut menghantam tubuhnya, semakin lama semakin membuat Arman tak bisa melawan rasa kantuknya. Tak kuasa mengungkit kelopak mata yang terasa berat. Konsentrasi otaknya minus tujuh puluh persen. Pandangannya kabur dan kesadarannya melayan-layang. Sampai-sampai Ia tak menyadari ketika ada seorang pembeli lain berada disebelahnya.
“Kak Arman!!!” Tiba-tiba seorang wanita berkerudung merah muda memanggilnya.
Arman tergeragap. Ia lalu menoleh dan memaksa berdiri, dan sekejap rasa kantuk yang Ia rasakan tiba-tiba saja menghilang seketika. Bagaikan melesat begitu saja meninggalkan daerah sekitar pelupuk matanya. Konsentrasi otaknya langsung saja bertambah kembali lima puluh persen.
“Kkkamu kann..” Mulutnya tergagap
“Perkenalkan saya Rimbani Aldina.” Sambil menelungkupkan kedua tangannya di depan dada di hadapan Arman. Wajahnya bersinar, teduh keanggunan.
Arman dibuat takjub melihatnya jernih mata milik Rimbani. Hitam berkilau. Ia menghela nafas menenangkan dirinya. Kerudung berwarna merah muda panjang dan baju muslimah putih kombinasi merah muda yang menutupi seluruh tubuhnya. Membuat Rimbani begitu anggun, seperti bidadari yang baru saja turun dari langit ketujuh. Arman menggisik kedua matanya. Merasakan seolah-olah mimpi di siang bolong.
“Bukan mimpi kan?” Arman berucap sambil tersenyum, mukanya nampak sedikit memerah.
Rimbani tersenyum begitu mendengar ucapannya.
“O ya, Arman Reihan.” Arman memperkenalkan diri dengan melakukan hal yang sama ketika Rimbani memperkenalkan dirinya tadi, menelungkupkan kedua tangan di dada.
“Kak Arman sedang apa disini?”
“Emm.. saya sedang mengantar Kakek untuk bersilaturahmi ke pondok pesantren Daarul Ihsan, kebetulan saya tadi sedikit kehausan. Jadi mampir dulu kesini untuk membeli minuman. Ini minumannya.” Arman menunjukkan soft drink-nya.
Rimbani kembali tersenyum melihatnya.
“Kamu sendiri darimana kok tiba-tiba ada disini?” Arman balik bertanya.
“Tadi habis dari tempat tukang jahit dan rumahnya Bu Salamah, bawa pesanan seragam untuk sekolah dan mengantarkan kue lapis untuk pengajian ibu-ibu di mesjid sebelah. Dan setelah itu, baru kesini. Kebetulan Ummi meminta saya beli gula untuk di rumah.”
“Oo.. Rumahnya memang didekat sini ya?” Arman bertanya kembali sambil menggaruk-garuk kepalanya meskipun tak terasa gatal.
“Iya, itu disana tak jauh dari sini mungkin sekitar seratus meter.” Jawab Rimbani dengan mengarahkan telunjuknya ke salah satu rumah yang terlihat tak jauh dari sana.
Hati Arman begitu sangat bahagia, setelah bertemu dan mengetahui bahwa rumah Rimbani ternyata tak jauh dari situ. Ia tak bisa berbohong dalam hati kecilnya, bahwa ia jatuh cinta pada sosok Rimbani.
Rimbani terkesan pada Arman. Sejak pertama bertemu dengannya, Ia melihat Arman pria yang baik, supel, dan periang. Wajah kalemnya memang terlihat seperti dingin. Padahal tidak. Terpancar benih-benih cinta diraut wajah antara keduanya.
“Kak Arman, saya pamit dulu, saya takut ummi sudah menunggu di rumah.”
“O iya, silahkan.” Arman mempersilahkan Rimbani untuk meninggalkannya.
Rimbani berjalan perlahan, berhati-hati menyeberangi jalan. Ia lalu melangkah dipinggir jalan tanpa trotoar. Arman terus memperhatikan setiap langkahnya. Meskipun masih terlihat, Rimbani tampak menjauh dari pandangannya.
Arman tiba-tiba saja teringat, untuk menanyakan sesuatu. Ia kemudian berjalan beberapa langkah dan berteriak memanggil Rimbani.
“Rimbani!”
Mendengar suara Arman memanggil, Rimbani pun saat itu langsung menoleh ke belakang dengan membalikkan badannya. Tapi tiba-tiba.
“Braaakkkk...” Sebuah sepeda motor menyerempet menghantam kesebagian tubuh Rimbani.
“Allahuakbar.” Teriak Arman spontan.
Rimbani sedikit terpelanting dan terjatuh di pinggir jalan. Tanpa pikir panjang, Arman segera berlari sekuat tenaga, sekencang-kencangnya ke tempat dimana Rimbani terserempet. Arman terus berlari sambil memanggil-manggil nama Rimbani. Bu Juzailah, ibu Rimbani, tak sengaja melihat kejadian itu dari depan rumah. Bu Juzailah seketika itu juga berlari untuk ikut mendekat. Beberapa orang terlihat datang mencoba untuk membantu.
“Rimbani, kamu tidak apa-apa.” Arman cemas akan keadaan Rimbani, lalu membantu membangunkan dan membawakan barang-barang yang tadi dibawanya.
Bu Juzailah terlihat cemas, menangis, khawatir terjadi sesuatu pada Rimbani, putri kesayangannya. Arman membantu Rimbani berjalan mendekat pada ibunya.
“Kamu tidak apa-apa Nak.” Bu Juzailah bertanya sambil tersedu-sedu.
“Rimbani, tidak apa-apa Bu. Hanya mengenai tangan saja.” mulutnya sedikit bergetar karena shock, dan meringis kesakitan.
Pengendara motor yang lalai itu mendekati Rimbani dan Ibunya mencoba meminta maaf. “Maaf, saya tidak sengaja, tadi saya khilaf, mengetik sms ketika mengendarai motor, maafkan saya.”
Arman melirik geram ke arah pengendara motor itu. “Makanya lain kali jangan mengetik sms waktu mengendarai sepeda motor. Coba berhenti saja sebentar dipinggir jalan. Supaya tidak membahayakan orang lain.”
Pengendara motor itu tertunduk meratapi kesalahannya.
“Sudah, tidak apa-apa Kak Arman.” Rimbani coba mengingatkan Arman.
“Sudah tidak apa-apa Pak, saya sudah maafkan, lain kali hati-hati saja.” Tambah Rimbani, kakinya sedikit tertatih-tatih.
“Baik, terimakasih banyak, sekali lagi saya mohon maaf.” Ujar si pengendara motor lalu berbalik melangkah mendekati motornya yang masih tergeletak dijalanan.
Arman dan Bu Juzailah membantu Rimbani yang masih sedikit shock dengan kejadian itu, untuk berjalan. Selintas terbersit di kepala Arman ada rasa bersalah, ketika teringat ia berteriak memanggil Rimbani. Jika saja aku tak memanggilnya, mungkin tidak akan terjadi seperti ini. Arman berkata-kata pada hatinya. Terlukis rasa menyesal dibenak Arman.
“Rimbani, maafkan aku.” Arman mencoba meminta maaf.
“Tidak perlu meminta maaf, ini pasti sudah ijin-Nya.”
Hanya delapan kata tapi mengandung arti yang sangat begitu luas. Arman terpana mendengar ucapan Rimbani. Rasa cintanya semakin kuat, dihati terdalamnya muncul keinginan untuk bisa selalu menjaganya.
“Terimakasih ya de, sudah mau membantu.” Bu Juzailah berterimakasih pada Arman.
“Ngomong-ngomong, Ade ini siapa dan darimana asalnya?” Tambah Bu Juzailah.
“Saya Arman Bu, Kakak kelas Rimbani di SMUN 1 Sriwidari, saya juga pernah melihat Rimbani waktu orientasi kemarin. Saya asli Sriwidari sana, kebetulan sedang mengantar Kakek saya ke Darrul Ihsan.” Jawab Arman.
“Kalo begitu ayo mampir dulu.”
“O terimakasih Bu, sepertinya saya harus pergi untuk menemui Kakek saya. Mungkin lain kali saya mampir kesini.”
Arman sejenak berdiam, dengan wajah kalemnya ia memandang wajah Rimbani dengan halus dan Bu Juzailah. Tanpa ia sadari, Mulutnya tiba-tiba seperti melawan kehendak tuannya, tak tertahankan untuk berucap.
“Saya, berjanji akan menjaga Rimbani.”
Perkataan Arman kala itu, sepertinya langsung mematung tubuh Rimbani, ia seakan tak percaya, matanya sedikit berkaca-kaca, dadanya bergetar, bibir merahnya merona seketika. Rimbani membalas menatap Arman dengan lembut.
“Mohon, bimbing aku.” Rimbani ucap membalas.
Bu Juzailah hanya bisa tersenyum melihat mereka berdua.
Arman sontak langsung ikut tersenyum, kedua ujung bibirnya mengembang, “Kalau begitu saya permisi dulu, Rimbani mungkin harus istirahat.” Ucap Arman pada Bu Juzailah dengan santun.
Rimbani dan Bu Juzailah pun mengiyakan. Lalu Arman berjalan pergi meninggalkan Rimbani dan ibunya, Setiap kaki melangkah di tepian jalan itu, dipikirannya terbayang slide-slide kejadian yang baru saja sudah ia alami, seperti sebuah momen penting dalam sejarah hidupnya.
Rimbani terus memandangi punggung Arman. Perlahan menjauh dari pandangannya. Ia seolah masih tak percaya, Arman akan melontarkan sebuah kata yang membuat hatinya seperti bunga melati baru mekar.
*****
To Be Continue
Part 3 B
Tidak ada komentar:
Posting Komentar