“Kok kamu bisa-bisanya sih nak keserempet motor, maka-nya lain kali kamu lebih hati-hati. Mana lukanya, sini ibu obati.” Kata Bu Juzailah sambil mengompres luka lebam hitam kebiruan yang ada di lengan kanan Rimbani.
“Iya Ummi, Rimbani sudah berjalan hati-hati, mungkin pengendara motornya saja tadi yang tidak melihat Rimbani sedang ada dipinggir jalan. Katanya kan dia juga sedang mengetik sms sambil mengendarai motornya Mi.”
“Aya-aya wae[1], kok sempat-sempatnya mengendarai motor sambil ngetik sms.” Bu Juzailah menggerutu.
“Tidak apa-apa Bu, mungkin dia sedang buru-buru, atau ada kepentingan. Lagian Rimbani kan tidak apa-apa, hanya sedikit lebam saja.”
“Kenapa Mi.” Tiba-tiba Pak Harun datang dari pintu belakang.
“Ini loh, Rimbani, keserempet motor.”
“Lha Terus, kamu tidak apa-apa nak, perlu dibawa kerumah sakit tidak.”
“Tidak usah abah, hanya lebam kecil saja, Insya Allah, nanti segera sembuh.” Kata Rimbani pelan.
“Yakin, tidak apa-apa, abah hanya takut terjadi sesuatu sama kamu nak, nanti kalau lukanya itu semakin parah bagaimana.”
“Iya, Bah. Rimbani yakin, kalau tangannya digerakkan tidak terasa sakit kok, tapi kalo disentuh sama Abah atau sama Ummi, nah baru kerasa sakit.”
Pak Harun dan Bu Juzailah sedikit tertawa, “Bisa aja kamu nak, ya sudah kalau nanti terlihat belum sembuh juga, bilang sama Abah atau Ummi mu ya.” Ucap Pak Harun.
“Iya Abah.”
Setelah selesai diobati, Rimbani langsung menuju ruang tengah, Rimbani melihat buku-buku koleksinya. Ia mengambil sebuah buku kategori an-nafsu al-mutma’innah[2] karya DR.’Aidh al-Qarni yang tersimpan di rak buku. Lalu Ia duduk di sofa tengah rumah sambil membaca salah satu bab yang menerangkan penjelasan tentang berbaik sangka kepada Allah Azza Wa Jalla. Suasananya begitu nyaman. Meski lebam ditangannya masih terasa sakit tapi sama sekali tidak mengganggunya.
Lembar demi lembar ia baca, meresapi dan mempelajari isi dalam buku tersebut Rimbani mencoba memahami apa yang ditulis Aidh al-Qarni yang menjelaskan tentang berbaik sangka kepada Allah merupakan sebuah nikmat yang menentramkan. Ketika Allah mungkin saja mencoba seorang hamba-Nya dengan ujian berat yang sebenarnya justru melepaskan dirinya dari kehancuran. Sehingga cobaan itu menjadi nikmat terbesar baginya. Orang yang berbaik sangka dengan bersabar menghadapi ujian, menerima semua ketentuan Allah dan bersabar atas semua kesulitan, maka Allah akan menampakkan kebaikannya. Tujuannya, agar selanjutnya bisa memahami kemaslahatan yang tersembunyi dibalik itu.
Rimbani memahami apa yang dikatakan William James dalam buku itu, Rabb memberikan ampunan atas kesalahan kita, namun organ syaraf kita tidak pernah melakukan itu untuk selamanya. Jadi, janganlah mengeluh ketika dicengkram taring-taring ujian, karena jalan kearah kebaikan sangat sulit.”
Rimbani membaca banyak setiap bagian-bagian dari bab tersebut, ia begitu mendalaminya, membaca lebih dalam lagi dan ia menemukan dihalaman lain terselip penjelasan bahwa menurut Ibnu al-Wajir dalam bukunya yang terkenal, Al-Awashim wa al-Qawashim, mengatakan bahwa harapan terhadap rahmat Allah akan selalu membukakan pintu harapan bagi diri seorang hamba, akan menguatkannya untuk melakukan ketaatan, dan membuatnya semakin antusias dalam melakukan amalan-amalan sunnah dan bersegera untuk melakukan kebaikan. Sebab, tidak semua jiwa akan menjadi baik kecuali dengan mengingat rahmat, ampunan, taubat, dan kesabaran Allah. Karena sikap Allah yang demikian baik, maka mereka pun mendekatkan diri kepada-Nya, dan berusaha keras melakukan kebaikan.
Ketika Rimbani sedang santai membaca dan menghayati isi salah satu bab dari buku tersebut, tiba-tiba ibunya, Bu Juzailah, memanggil.
“Nak, kamu dimana?”
“Ini disini Bu, Rimbani ada di ruang tengah.”
Bu Juzailah melangkah ke ruang tengah rumah menghampiri Rimbani.
“Nak, laki-laki yang tadi nolongin kamu itu siapa? apa kamu kenal dekat dengannya? perasaan ibu kok seperti sudah lama begitu ketemu sama dia, tadi siapa namanya ibu lupa.”
“Mungkin itu hanya perasaan Ummi saja, dia Kak Arman, kakak kelas Rimbani, dia ketua orientasi siswa baru waktu kemarin. Rimbani baru sekali bertemu, itupun juga belum terlalu mengenal baik. Rimbani baru tadi berkenalan dengannya. Kebetulan bertemu di warung. Rimbani belum tahu banyak tentangnya. Setahu Rimbani, dia salah satu siswa terbaik di SMUN 1 Sriwidari, hanya itu Ummi.” Jawab Rimbani dengan tenang.
“Oo.. Apa kamu suka sama Nak Arman itu?” Tanya Bu Juzailah sambil menggoda Rimbani.
Rimbani tersenyum malu dengan pertanyaan ibunya itu. ia berusaha untuk tenang, dan mencoba berkata jujur.
“Jujur Ummi, Rimbani terkesan padanya. Sejak pertama kali Rimbani melihatnya, sosoknya begitu istimewa, bertanggung jawab, bisa menjadi seorang pemimpin yang baik, penyabar, dan sepertinya seorang pekerja keras.”
“Kamu boleh saja jatuh cinta, tapi ingat jangan sampai mengganggu urusan sekolahmu. Baru juga kan kamu masuk SMU.”
“Iya Ummi, terkesan bukan berarti Rimbani harus memilikinya kan, Rimbani juga tak pernah berkata akan berpacaran. Jadi Rimbani tidak salah kan Mi.” Jawab Rimbani diplomatis. Namum dihati kecilnya terpatri sebuah nama yaitu Arman Reihan.
“Iya, mudah-mudahan kamu nanti dapat jodoh yang baik, shalih, punya tanggung jawab dan bisa menjadi imam yang baik untukmu ya Nak. Syukur-syukur kalo Nak Arman itu. Ummi lihat sepertinya dia orangnya juga baik. Insya Allah. Ummi jadi teringat waktu sama abah mu dulu. Tahu gak, Ummi pertama terkesan sama abah mu itu, ketika dia nolongin Ummi jatuh terpeleset di sawah. Euuh.. waktu itu Abah mu membuat hati Ummi berdebar-debar. He.. he.. he..”
Di belakang tanpa mereka ketahui, Pak Harun ternyata mendengar itu semua. Dengan berjalan mendekat.
“Ummi, jangan bikin malu Abah ah, Ummi ini aya-aya wae.”
Sontak semuanya pun dibuatnya tertawa bersama-sama.
*****
*****
Pukul setengah lima sore Pak Badri dan Arman mohon diri. Kiai Abdullah mengantarkan mereka sampai beranda.
“Pak Kiai, saya mohon diri dulu.” Ucap Pak Badri kepada Kiai Abdullah.
“Baik. Terimakasih sudah hadir. Kapan-kapan kalau ada waktu, jangan sungkan-sungkan untuk mampir kemari. Nak Arman juga, jangan sungkan datang lagi kesini ya.”
“Baik Pak Kiai.” Jawab Arman dan Kakeknya hampir bersamaan.
“Mari Pak Kiai saya permisi dulu.”
“Silahkan.. Silahkan.., hati-hati.”
“Baik, terimakasih Pak Kiai, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Arman menyalakan motornya. Kiai Abdullah masih berdiri di beranda. Motor yang dikendarai Arman beserta kakeknya yang ada di boncengan, melaju perlahan menuju gerbang keluar pesantren. Tak lama kemudian motor itu hilang keluar gerbang berbelok menuju utara untuk kembali pulang ke Sriwidari.
Diperjalanan Arman masih mengingat kejadian yang dialaminya hari itu. Bertemu dengan wanita terindah yang pernah ia temui, Rimbani. Keteduhan serta keanggunannya yang membuat Arman begitu terpana. Hari terindah, hari bersejarah, hari yang tak akan pernah dilupakannya. Mungkin seperti itu gambaran yang ada di kepalanya. Motor terus melaju, di atas aspal berlubang, jalanan yang belum pernah diperbaiki lagi.
“Kek, kapan Kakek mau ke Bojong lagi.” Tiba-tiba Arman bertanya sambil mengendarai motornya.
“Kakek belum tahu. Memangnya kenapa?”. Kakeknya balik bertanya.
“Kapan-kapan kalau Kakek mau ke Pesantren itu lagi, ajak Arman ya Kek.”
“Iya, nanti kalau kesitu lagi Kakek beritahu. Lagian juga kalau kamu mau ke pesantren itu lagi sendiri juga tidak apa-apa, kan Kiai Abdullah juga sudah kenal sama kamu. Biasanya, suka ada pengajian setiap malam jumat.”
“O begitu ya Kek. Kapan-kapan, Insya Allah Arman datang ke pengajiannya.”
Hari semakin petang, langit sudah nampak merah kekuningan. Motornya meluncur menyusuri jalan yang terlihat seperti membelah pesawahan. Burung-burung pinis berhamburan bersiap menyambut dewi malam.
*****
To Be Continue
Part 4 A
Tidak ada komentar:
Posting Komentar