Udara dingin menusuk hingga jantung, baju berlapis yang ku kenakan tak mampu menghadirkan rasa hangat.
Tubuh ini menggigil di tepian semenanjung, ber-mil-mil dari tempatku terasingkan.
Aku seakan melayang lalu tenggelam diantara delta-delta kutub selatan.
Seperti tak ada tempat bagiku, mendekap kehangatan depan perapian sang cinta.
Udara dingin terus menghantam membekukan kaki-kaki, hingga sulit tuk berjalan, walau sekedar berjalan perlahan.
Sedikit merangkak, menggapai daun-daun kering pemantik aliran darah.
Dalam jiwa yang terlantar, sedikit demi sedikit reaksi alamiah mengalir mencairkan kebekuan hati.
Menjalar bersama aliran darah. Menghidupkan jiwa hampir mati.
Dengan helaan napas panjang ke peluk erat kedua kakiku.
Bersama kepingan kenangan pahit yang tak pernah bisa ku kubur didasar lautan terdalam.
Entah sampai kapan semua ini akan berakhir?
Akankah ada penyelamat yang tanpa sengaja menemukan ku.
Atau apakah aku harus tetap bertahan dan tetap merasakan pahitnya terasingkan dari hangat perapian sang cinta.
Pedang keyakinanku hampir retak
Aku harus terus bertahan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar