Home

Minggu, 29 Januari 2012

BEYAZ GUVERCIN (Sang Merpati Putih Penembus Langit) - PART 4 A

 4
Beautiful Night



            Hari begitu hangat kali ini, Pak Sobirin berjalan keluar dari ruangannya. Ia melihat-lihat ke sekeliling. Tatapannya terus memperhatikan siswa-siswa yang baru saja keluar kelas pada waktu istirahat pertama. Tatapan matanya tiba-tiba berhenti, mengarah ke salah satu kerumunan siswa yang sedang duduk di panggung teater. Lalu Pak Sobirin memanggilnya.
            “Arman.Teriak Pak Sobirin.
            Arman terhenyak dan melihat-lihat darimana asal suara itu.
            “Arman, sini.” Pak Sobirin kembali memanggilnya.
            Arman kemudian mengetahui asal suara, ternyata Pak Sobirin yang memanggilnya, ia berdiri dan langsung melangkah untuk segera menghampiri. Setelah sampai, ia langsung mencium punggung tangan Pak Sobirin itu sambil mengucapkan salam.
            “Nak Arman, Bapak ada perlu sebentar, kita masuk saja keruangan Bapak, ada sesuatu hal yang ingin Bapak bicarakan. Ajak Pak Sobirin sambil mengisaratkan pada agar Arman masuk ke ruangannya.
            Arman pun lalu melangkah santun mengikuti Pak Sobirin dari belakang masuk ke ruangan kepala sekolah itu. Pak Sobirin duduk dikursi belakang meja, dan Arman duduk dikursi yang disediakan, berhadapan dengan Pak Sobirin.
            “Ada keperluan apa ya Pak.” Arman bertanya perihal kepentingan akan dirinya.
            “Baik, begini Nak Arman, Pihak sekolah akan mengadakan acara Malam Bina Ruhani Islam. Acara ini kan sudah rutin dilakukan oleh pihak sekolah setiap tahunnya, untuk menyambut siswa baru di sekolah ini. Acaranya berupa taushiyah, pendalamam mengenai agama islam. Kamu sendiri juga pasti sudah pernah mengikutinya dulu. Nah, oleh karena itu, tolong kamu koordinasikan dengan teman-temanmu untuk kembali menjadi panitia acara tersebut. Acaranya akan diselenggarakan hari kamis malam, minggu depan, di mesjid sekolah. Untuk pengisi acaranya nanti pihak sekolah sudah menyiapkan, hanya saja untuk konsep, anggaran dana dan tema-nya tolong kamu nanti yang mengurusnya dan bentuk kepanitiaannya. Bapak pilih kamu sebagai ketuanya. Bapak percayakan kepadamu.
            Arman menyetujui dan siap menjalankan perintah dari Kepala Sekolah SMUN 1 Sriwidari itu.
            “Kalau begitu, nanti saya akan segera bentuk kepanitiaanya, mungkin saya akan memanggil kembali beberapa orang dari panitia orientasi beberapa bulan lalu dan nanti akan segera saya serahkan laporannya.” Ujar Arman.
            “Iya, pokoknya Bapak serahkan sama kamu, persiapkan semuanya dengan baik.
            “Baik Pak, saya akan coba membuat acara Malam Bina Ruhani Islam kali ini lebih meriah dan bisa menarik banyak pengunjung. O ya, Apakah ada yang lainnya lagi mungkin Pak?”
            “Tidak, mungkin hanya itu saja, maaf Bapak mengganggu waktu istirahat kamu Nak Arman.
            “Sama sekali tidak apa-apa, kalau tidak ada lagi, saya mohon diri dulu Pak.
            “Silahkan, terimakasih Nak Arman.
            “Sama-sama.” Jawab Arman beranjak dari tempat duduknya dengan berucap salam.
            Kemudian Arman pun mohon diri, pergi meninggalkan ruangan Pak Sobirin untuk kembali menikmati waktu istirahat pertamanya, sambil mencari beberapa temannya untuk diajak kembali menjadi panitia, sesuai dengan amanah yang diembannya. Langkahnya terus berjalan dilorong-lorong depan kelas. Mengarah kesebuah kantin.
            Dikantin sekolah, Erlan begitu lahap memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. Menyantap sepiring nasi rames. Sedang, disebelahnya Yudi sedang bingung memilih-milih menu makanan. Disekelilingnya terlihat banyak siswa-siswa lain yang juga sedang makan, memilih makanan-makanan, dan menikmati waktu istirahat, di kantin milik Pak Bento.
            “Arman kemana ya?” Tanya Erlan kepada Yudi.
            “Mungkin dia belum keluar kelas untuk istirahat, coba kita hubungi saja.Ujar Yudi
            Yudi lalu mengambil handphone di saku kanan celananya, untuk menghubungi Arman.
            Tak lama, handphone butut milik Arman pun berbunyi.
            “Halo.” Arman menjawab panggilan telponnya.
            “Halo, Arman kamu dimana?” Tanya Yudi dari sebelah sana.
            “Saya sedang mencarimu, kamu ada dimana, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan?” Arman balik bertanya.
            “Saya sedang ada di kantin Pak Bento, bareng Erlan.
            “Wah kebetulan sekali, saya juga mau ke kantin, kamu tunggu disitu, sebentar lagi saya sampai.
            “Baik-baik, kami tunggu.
            Percakapan mereka pun berakhir. Arman mempercepat langkah kakinya menuju kantin Pak Bento. Sekitar lima menit ia tiba di kantin itu.
            “Halo sahabat, assalamualaikum.” Ucap Arman sambil menjabat tangan kedua sahabatnya itu, Erlan dan Yudi.
            “Waalaikumsalam.” Jawab Erlan dan Yudi hampir bersamaan.
            Arman kemudian duduk di kursi yang masih kosong. Disebelah Erlan. Lalu memilih-milih minuman yang akan dipesan.
            “Kebetulan kalian ada disini. Saya ada perlu sesuatu sama kalian. Ada yang harus saya bicarakan.  Begini, tadi Pak Sobirin meminta saya untuk menyiapkan acara Malam Bina Ruhani Islam. Itu loh, acara tahunan untuk menyambut siswa baru. Terus saya juga diminta untuk menyiapkan kepanitiaannya, dan acaranya akan diadakan hari Kamis minggu depan, nah.. saya minta kalian ikut jadi panitia lagi, kalian mau tidak?”
            “O pasti, kalau itu saya always siap!” Jawab Erlan sambil mengunyah makanannya.
            “Kalo kamu Yud?” Arman juga bertanya pada Yudi yang masih menunggu pesanan makanannya.
            “Kalau aku sih, pasti siap juga kawan.”
            “Baiklah, kalau kalian siap, setelah kalian selesai makan, saya minta tolong untuk mencarikan beberapa orang lagi untuk menjadi panitia, ajak juga Lutfi dan Firman. Kita butuh lima belas orang lagi saja. Masing-masing kita cari lima orang, lalu kumpulkan mereka nanti, setelah selesai pelajaran hari ini di kelas IPA untuk mengikuti rapat. Bagaimana adil kan. He.. he.. he..” Ucap Arman memimpin.
            “Baik, oke lah kalau begitu.” Ujar Erlan sambil tertawa dan tersedak karena makanan dimulutnya.
            “Ini kawan air minumnya, ayo minum dulu, maka-nya hati-hati, makan... ya makan.., ngomong... ya ngomong... jangan makan sambil ngomong.” Yudi membantu mengambilkan air minum sambil tertawa-tawa bersama Arman.
            Setelah Erlan merasa tenang karena tersedak, Arman tiba-tiba terpikirkan akan sesuatu. Disebelahnya, Pak Bento datang mengantarkan pesanan Yudi dan minuman pesanan Arman.
            “Sebentar, di Malam Bina Ruhani Islam itu kan ada acara kuro[1], kira-kira siapa orang yang pas jadi pengisi acaranya?, kalau penceramah untuk pengisi taushiyah-nya sudah disiapkan oleh pihak sekolah, jadi kita tidak perlu memikirkannya.” Arman bingung dan meminta masukan.
            Yudi langsung memberikan ide, “Bagaimana kalau kamu saja yang mengisinya. Kamu juga kan pasih membaca Al-Qur’an, masih aktif di pesantren lagi.” Yudi berkata kepada Arman.
            “Waduh, jangan saya, sungguh saya belum siap kalau untuk mengisi acara kuro, saya juga masih belajar.
            “Kamu jangan terlalu merendah begitu, kamu kan didikannya Ustad Jaelani, guru agama di sekolah ini, pasti bisa.
            “Sungguh Yud saya belum siap, lagian nanti siapa yang mengontrol acaranya, konsentrasinya nanti takut terpecah. Begini saja, bagaimana kalau Ghufran, dia kan koordinator divisi keagamaan di OSIS, saya pernah lihat dia membaca Al-Qur’an, bagus lagi membacakannya.
            “Ghufran..! O iya, saya baru ingat, saya setuju.” Ujar Yudi sambil mengunyah makanan dan mengangkat jari telunjuknya.
            “Saya juga setuju.” Erlan mengikuti sambil menatap Arman dan Yudi, lalu mengangkat-ngangkat kedua alisnya.
            Arman menatap sesaat dua sahabatnya.
            “Baiklah, kalau kalian setuju nanti waktu istirahat kedua, saya akan coba membicarakan hal ini dengannya, dia ada di kelas IPS 2 kan?”
            “Iya betul, sekalian saja ajak dia untuk rapat, nanti sepulang sekolah.
            “Iya Baik.” jawab Arman sambil menggenggam botol minuman lalu menyeruputnya.
            “Teeeeett.... Teeeett...” tak lama suara bel tanda masuk kelas terdengar. Arman, Erlan dan Yudi pun segera bergegas untuk masuk ke kelasnya, setelah membayar pesanan makanan.

***** 

To Be Continue
Part 4 B

[1] Kuro artinya pembacaan Al-Qur’an

Tidak ada komentar:

Posting Komentar