Tumpukan kertas, berkas-berkas kerja berdebu yang masih belum selesai ku kerjakan masih menghiasi meja kerja. Suara laju printer terdengar menghiasi sore yang mulai beranjak merayap menuju magrib. Setelah sesaat beristirahat dari penatnya jam kerja, ditambah dengan pekerjaan yang belum terselesaikan, aku berpikir alangkah baiknya pekerjaan yang masih tersisa itu segera diselesaikan. Aku memulai kembali bekerja dan terkadang berakhir hingga larut malam. Memang lebih dari setahun belakangan ini, hari-hariku mulai matrikulasi dan terjebak dalam rutinitas yang itu-itu saja: bekerja, nonton acara televisi, dan sekejap menyempatkan diri didepan laptop hanya untuk menulis. Rutinitas sepertinya bagaikan pembunuh berdarah dingin.
“Nizam aku pulang duluan ya.” Kata itu terlontar dari salah seorang rekan kerjaku. Rupanya dia sudah beranjak pulang untuk segera berjumpa dengan keluarganya. Sedangkan aku harus masih mengerjakan tugas yang enggan ku biarkan hingga esok hari. Karena esok pasti pekerjaanku akan bertambah lagi. Lagi pula keluargaku jauh, sepulang dari kantor aku hanya bisa pulang ke los kontrakanku.
“ Oke, hati-hati dijalan.” Jawabku standar.
Satu per satu dari mereka pergi pulang menerobos padatnya jalanan di sore hari. Tinggal menyisakan aku dan seorang satpam jaga yang masih ada diruang ini. Jari jemariku masih sibuk memainkan hurup-hurup yang ada pada keyboard, mataku tetap fokus pada layar monitor komputer. Raga ku rasakan sudah mulai letih. Suara printer yang dari tadi tak henti-hentinya terus bergerak mencetak laporan hari ini dan suara televisi yang sedang memberitakan kekisruhan Negeri tercintaku ini, yang hanya mampu memecah redup keheningan. Hatiku selalu gamang bila dihadapkan pada situasi seperti ini. Hatiku kadang meracau menghadapi gelombang kekesalan yang bagai memusat ke ubun-ubun kepala dan melemahkan semangatku. Jiwaku terusik. Aku tak bisa banyak bicara dan hanya bisa bergerak bagaikan mesin. Sungguh rutinitas harian yang ku hadapi membuatku bosan. Ingin rasanya menikmati kebebasan dalam hidupku suatu hari nanti. Pemikiran ku yang terkadang idealis selalu berontak ketika dipaksa harus terkekang.
Ketika aku masih bergulat dengan pekerjaan dan pikiran yang tak menentu tiba-tiba handphone ku berdering, ringtone Owl City berjudul Vanilla Twilight . Setelah ku lihat ternyata sebuah pesan masuk.
“Jangan Lupa Solat, dan makan juga ya.. ^_^. – Nathia –“
Suatu kebiasaan baru yang membuat hari-hariku jadi berbeda dari biasanya. Sudah lama aku tak merasakan hal seperti ini. Merasa diperhatikan, atau bahkan mungkin dicintai. Tapi itulah sesuatu yang membuatku merasa tenang. SMS yang sederhana tapi sangat bermakna bagiku ditengah penatnya beban kerja yang menjemukan. Aku memutuskan segera membalas pesan dari Nathia.
“Iya terimakasih, kamu juga ya sayang.” Klik, pesan terkirim.
Suara adzan magrib memecah langit. Aku beranjak dan mengambil air wudhu. Mendirikan panggilan melaksanakan shalat magrib. Dalam dzikir ku agungkan nama Illahi Rabbi. Doa ku tuturkan pengakuan sebagai manusia yang berdosa, iman yang tak sempurna.
Tepat pukul tujuh malam, aku sudah menyelesaikan sisa pekerjaanku. Dan segera menuju halte menunggu metro untuk sampai ke los kontrakanku. Malam itu bulan tertutup awan. Sambil duduk aku merenung. Aku merasakan rindu pada Nathia, aku rindu keluargaku, sedangkan aku tak bisa setiap hari bertemu dengan mereka semua. Dan hari esok akan ku lalui rutinitas yang sama lagi. Aku tak tahan melewati badai kejenuhan yang menghimpit. Ku tak sabar menunggu waktu bertemu keluarga dan bisa bersama setiap saat mendekap Nathia. Perlahan air mataku meleleh jatuh dikedua pipi. Aku tak kuasa menahan. Sungguh rasa rindu yang tak bisa terbendung. Ingin rasanya hati ini mengembangkan sayap bercahaya dan terbang kearah mereka orang-orang yang selalu ku sayang. Hati bersayap dan bercahaya miliku selalu ada untuk kalian.
--------------------------------------------------------------------------------------------
Heart, Wings and Light:
“Saat Anda merasa bosan dalam perjalanan mencapai impian, berhentilah sejenak. Luangkan waktu bertemu dengan orang-orang yang Anda sayangi. Berhenti bukan berarti berleha-leha. Tapi manjakan diri dengan mengumpulkan tenaga dan mencerahkan pikiran untuk kembali meraih impian Anda.”
Rahman Sophal Alparid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar